Top

travel photographer Tag

New Zealand Travel – Sebuah Wisata Keluarga

Suatu masa ketika notifikasi belum merajalela. Ponsel masih sebatas teks dan belum terlalu visual tanpa kuota internet. WA Group belum lahir. Facebook masih sebatas di desktop,layanan posting cepat instagram belum tersedia,dan tidak ada aplikasi peta yang memandu perjalanan dengan mudah. Begitu kira-kira suasana saat perjalanan ini dilakukan, Juli 2009. Peta wisata yang diperoleh gratis masih menjadi andalan untuk memandu petualangan kecil kami. Corat-coretan sudah menghiasai setiap peta yang ada atau brosur untuk memandai tempat-tempat yang bakal kami kunjungi. Bisa dibayangkan, bagaimana kami mengisi hari-hari perjalanan yang bisa kami namakan wisata keluarga ini. Atau bagaimana kami menghabiskan setiap malam yang cenderung lebih sunyi dikarenakan musim dingin. Tapi dibalik keterbatasan yang ada, sepertinya hal itu yang mengesankan sekaligus sangat dirindukan dari perjalanan ini. Begitu...

Suatu masa ketika notifikasi b...

Read More

#iniNegriku, A Visual Journey | Photo Book

Inilah etalase mini nusantara. Wajah negeri ini kami keluarkan dari bingkai mooi indie yang sering menyamarkan ke-Indonesia-an dalam kemolekan yang beku. Narasi visual 1000Kata menyatukan alam dan manu- sia dalam bingkai yang utuh. Kami ingin menegaskan warna-warni budaya, suku, dan bentang alam yang terentang 5.120 km dari timur ke barat, setara langkah dari London hingga New York. Ini petualangan filosofis kami dalam bingkai imaji, menapaki sudut-sudut asing negeri ini, wajah Indonesia yang jarang disapa. Dalam perjalanan ini kami meleburkan diri ke dalam alur sosial budaya masyarakat. Menyusup ke dalam denyut kehidupan lokal, merekonstruksi warna-warni nusantara. Detail Buku : Ukuran : 20 x 28 (40 x 28) Bahan : Soft Cover : Old Mill White Hard Cover : Board 2,5 mm + Bookmaster Content : KSK Tebal : 180 halaman...

Inilah etalase mini nusantara....

Read More

Tear Sheet : Sail Away

Phinisi may be the world’s last seaworthy wooden sailboats still in wide use today. The phinisi is a traditional wooden two-masted sailing ship, which were mentioned as plying the waters of Indonesia as early as the 14th century. The ships today are built at Tanjung Bira beach by the Konjo, a subgroup of the Bugis living in the Bulukumba regency of South Sulawesi. While modern power tools can be used, the boats are largely built using the design and construction techniques handed down over hundreds of years. These boats may be the world’s last large seaworthy wooden sailing ships being built. While many serve as humble cargo ships, some become high-end yachts.     Photograph And Text By Ahmad Zamroni Featured at Forbes Indonesia Magazine...

Phinisi may be the world’s las...

Read More

Modern, Nyaman, Brisbane

Kemegahan sebuah kota yang berpadu dengan kenyamanan hidup di sebuah komunitas budaya.   Di senja yang cerah itu, untuk kesekian kalinya, saya mendatangi sebuah taman, di daerah New Farm. Tak ada banyak orang Saya meluaskan pandangan , menatap dari kejauhan Story Bridge megah diatas sungai Brisbane. Betapa mempesona. Angin di musim semi yang begitu sejuk  masih terasa dingin bagi orang di daerah tropis seperti saya. Dibelakang jembatan itu, lampu jendela pencakar langit berpendar-pendar, pusat kota Negara Bagian Queensland. Di usianya yang lebih dari 150 tahun, kini Brissie, orang Australia menyebutnya, telah berubah menjadi kota yang menakjubkan. Walaupun modern tanpa keriuhan metropolitan. Suasana yang membumi sangat terasa di tempat ini dengan keramahan penduduk lokal yang kerap bertegur sapa. [caption id="attachment_4136" align="aligncenter" width="2000"] Beberapa seniman menari pada sebuah...

Kemegahan sebuah kota yang ber...

Read More

Cheng Ho (Zheng He)

Cheng Ho dikenal sebagai pemimpin yang handal, cerdik, arif dan mahir dalam ilmu pelayaran, juga pemeluk agama Islam yang tekun. Hal tersebut menyebabkan Cheng Ho dipilih menjadi pemimpin dalam Misi Perdamaian, membuka jalur baru yang sangat diperlukan demi melancarkan perdagangan, menjalin hubungan diplomasi persahabatan, dan tukar menukar kemajuan teknologi kepada negara-negara tetangga, termasuk negara-negara Islam yang ada di semenanjung lautan Hindia. Misi perdamaian Cheng Ho berangkat pada bulan Juli 1405,600 tahun yang silam, dengan terdiri lebih dari 200 armada. Misi Perdamaian ini juga singgah di Bukit Simongan Semarang. Cheng ho kemudian mendapat gelar Sam Poo Tay Djien* dan untuk menghormatinya didirikan tempat ibadah - Klenteng Gedung Batu - yang juga disebut Sam Poo Kong. Selama beratus-ratus tahun, Klenteng Sam Poo Kong...

Cheng Ho dikenal sebagai pemim...

Read More