Fotografi Hitam Putih : Nirwarna yang Mengidupkan Reka
Table of Contents
Foto hitam-putih selalu punya tempat khusus di hati saya. Bisa jadi ini karna kejenuhan. Setelah bertahun-tahun di dunia fotografi, ditambah paparan media sosial yang tak pernah berhenti. Terjangkit ‘obesitas visual’: kenyang oleh gambar yang tajam, jenuh, dan berwarna, tapi tak semua tinggal di ingatan. Atau mungkin ini sekadar romantisme. Saya tumbuh terpikat pada foto-foto Ansel Adams, yang membuat tebing dan lembah Yosemite terasa agung lewat gradasi abu-abu yang nyaris musikal. Pada Sebastião Salgado, yang mengubah ribuan penambang emas Serra Pelada dan alam liar dalam proyek “Genesis” menjadi gambar sekhidmat lukisan. Pada Richard Avedon, yang menelanjangi karakter orang biasa di depan latar putih polos tanpa satu pun hiasan. Di tangan mereka, hilangnya warna tidak terasa seperti kekurangan, melainkan seperti ruang yang sengaja dilapangkan.
Namun, rasa itu ternyata tidak banyak dibagi orang lain. Riset Agorapulse Social Media Lab menemukan bahwa di Instagram, foto berwarna meraih 24 persen lebih banyak likes dan 46 persen lebih banyak komentar dibanding foto hitam-putih. Di linimasa, jari kita memutuskan dalam hitungan detik, dan warna lebih sering memenangkan itu. Tentu bukan berarti generasi hari ini tidak paham keindahan monokrom, bisa jadi mereka hanya, secara statistik, lebih mudah tergoda akan ‘kecentilan’ warna. Di sini saya ingin mencoba melihat bagian yang dianggap sebagian kita ‘kurang lengkap’ dari sebuah foto hitam-putih sangat mungkin menjadi tempat yang menarik.
I. Ketika Algoritma dan Galeri Berbeda Selera
Perdebatan hitam-putih melawan warna sebenarnya bukan sekadar soal selera estetika. Ia menyentuh sesuatu yang lebih mendasar: apa yang kita anggap sebagai representasi yang ‘utuh’ dari kenyataan. Warna sering dianggap sebagai standar kelengkapan, karena begitulah cara mata manusia melihat dunia sehari-hari. Tapi anggapan itu justru menyembunyikan sesuatu yang lebih menarik: bahwa foto yang ‘kurang lengkap’ secara informasi visual justru bisa menjadi lebih kaya secara makna.
Tesis artikel ini sederhana namun berani: ketiadaan warna dalam fotografi, khususnya dalam portraiture (fotografi potret) dan editorial photography (fotografi editorial), bukanlah kekurangan teknis yang perlu dimaafkan. Ia adalah strategi estetis yang disengaja, sebuah keputusan sadar untuk membuka ruang interpretatif bagi penonton. Semakin sedikit yang ditunjukkan sebuah gambar, ternyata, semakin banyak yang diminta untuk dikerjakan oleh benak yang memandangnya.
Untuk sampai ke sana, kita akan menelusuri mengapa warna begitu identik dengan kebenaran, mengapa ruang kosong dalam gambar monokrom justru memaksa otak bekerja lebih keras, apa yang hilang saat warna dipaksakan kembali ke foto yang sudah ‘selesai’ tanpa warna, hingga bagaimana semua ini terasa dalam praktik memotret sehari-hari.


II. Mengapa Kita Percaya Warna Adalah Kebenaran
Ada bias yang begitu kuat tertanam dalam cara kita menilai gambar: karena mata manusia melihat dunia dalam warna, maka foto berwarna dianggap lebih ‘objektif’, lebih dekat dengan kenyataan, dan karenanya lebih dipercaya. Bias ini bukan kebetulan. Ia terbentuk dari sejarah panjang di mana fotografi warna baru bisa diakses secara luas jauh setelah hitam-putih menjadi standar, sehingga warna kemudian diasosiasikan dengan “kemajuan” dan “kelengkapan teknologi”.
Namun, filsuf dan kritikus semiotika Roland Barthes justru membalikkan logika ini dalam Camera Lucida. Ia menulis bahwa
“Color is a coating applied later on to the original truth of the black-and-white photograph.”
Bagi Barthes, warna bukan esensi, melainkan lapisan tambahan, semacam kulit luar yang justru bisa mengaburkan kebenaran asali sebuah gambar. Argumen ini terdengar radikal untuk ukuran tahun 1980, tapi gagasannya menemukan gaung tak terduga dalam riset akademis terbaru soal pewarnaan ulang foto arsip, sesuatu yang akan kita telusuri lebih jauh di bagian selanjutnya.
Tentu saja, tidak semua orang sepakat bahwa hitam-putih lebih unggul. William Eggleston, fotografer yang pada 1970-an mempelopori warna sebagai medium seni yang setara dengan hitam-putih, pernah berkata dengan tegas:
“The world is in color. And there’s nothing we can do about it.”
Bagi Eggleston, memilih hitam-putih justru adalah bentuk penghindaran dari kenyataan, bukan pendekatan kepadanya. Jejak serupa juga terlihat pada Martin Parr, fotografer dokumenter Inggris dan anggota Magnum Photos. Di awal kariernya sepanjang 1970-an, Parr memotret dalam hitam-putih, karena begitulah aturan tak tertulis saat itu. Ia sendiri pernah mengenang, “if you were going to do serious photography, you were obliged to work in black-and-white.” Namun pada 1982, terinspirasi oleh Eggleston, Parr beralih permanen ke warna dan tidak pernah kembali, membangun reputasinya lewat gaya satir yang mengejek konsumerisme dan kelas sosial Inggris.
Di sisi lain, hitam-putih jauh dari kata usang di tangan sejumlah banyak fotografer masa kini. Salah satu yang ‘mengejutkan’ Zanele Muholi, fotografer dan aktivis visual asal Afrika Selatan, lewat seri potret diri hitam-putih berjudul Somnyama Ngonyama (“Hail the Dark Lioness”), yang mendapat pameran tunggal besar di Tate Modern pada 2020, bahkan digelar ulang pada 2024 karena tingginya minat publik. Muholi sengaja mempertajam kontras hitam pada kulitnya sendiri untuk merebut kembali narasi soal ras dan identitas queer kulit hitam, menjadikan ketiadaan warna sebagai pernyataan politik, bukan sekadar pilihan estetika. Perdebatan ini membuktikan satu hal penting: pertanyaan ‘mana yang lebih jujur, warna atau ketiadaannya’ ternyata tidak pernah benar-benar selesai, bahkan di kalangan pakar sekalipun, dan masing-masing kubu terus melahirkan nama besar baru untuk membelanya.
III. Ruang Kosong yang Memaksa Kita Berpikir
Jika warna cenderung menjawab, hitam-putih cenderung bertanya. Barthes, dalam esai yang sama, memperkenalkan konsep punctum, yaitu detail kecil dalam sebuah foto yang tanpa diduga “menusuk” perasaan penonton secara personal, sesuatu yang tidak direncanakan oleh fotografer namun ditemukan sendiri oleh mata yang memandang. Dalam foto berwarna, detail semacam ini sering tenggelam di antara terlalu banyak informasi visual. Dalam foto hitam-putih, dengan lebih sedikit yang bisa dilihat, detail kecil justru punya ruang untuk menonjol dan menemukan penontonnya.
Susan Sontag, dalam On Photography, menulis gagasan yang senada, bahwa foto pada dasarnya
“cannot themselves explain anything, are inexhaustible invitations to deduction, speculation, and fantasy.”
Foto, bagi Sontag, tidak pernah benar-benar menjelaskan dirinya sendiri. Ia selalu mengundang penonton untuk mengisi kekosongan makna dengan spekulasi dan imajinasinya sendiri. Semakin sedikit informasi visual yang tersedia, semakin besar pula undangan itu terasa.
Kritikus seni John Berger menangkap sisi emosional dari kekosongan ini lewat satu frasa yang puitis, menyebutnya sebagai “the black blood of black-and-white photographs”. Baginya, foto yang merekam penderitaan atau realitas berat justru terasa lebih menusuk saat disajikan tanpa warna, seolah darah yang mengalir dalam gambar itu sendiri telah berubah kelam. Yang tidak tampak dalam sebuah foto, termasuk warna yang sengaja dihilangkan, justru ikut membentuk apa yang dirasakan penonton terhadap gambar tersebut.
Ada penjelasan psikologis yang mendukung pengalaman ini. Dalam teori Gestalt, terdapat prinsip yang disebut closure(penutupan), yaitu kecenderungan otak manusia untuk secara otomatis melengkapi informasi yang hilang agar sebuah bentuk terasa utuh. Ketika warna dihilangkan dari sebuah foto, otak kita dipaksa bekerja sedikit lebih keras untuk ‘mengisi’ apa yang tidak ditampilkan, entah itu warna kulit, suasana hati, atau konteks di balik momen yang terekam.
Analogi paling sederhana untuk memahami ini mungkin datang dari perbandingan membaca novel dengan menonton adaptasi filmnya. Saat membaca, deskripsi wajah tokoh utama dibiarkan terbuka, dan setiap pembaca membayangkan rupa yang berbeda-beda di kepalanya sendiri. Begitu film adaptasinya dirilis dengan aktor tertentu, imajinasi itu langsung tergantikan oleh satu wajah yang pasti. Foto hitam-putih bekerja seperti halaman novel yang belum difilmkan: ia menyisakan ruang bagi penonton untuk terus menulis ceritanya sendiri.


IV. Ketika Warna Justru Membungkam Imajinasi
Jika ruang kosong dalam hitam-putih memancing imajinasi untuk aktif bekerja, menambahkan warna ke gambar yang awalnya monokrom ternyata berpotensi melakukan hal sebaliknya, yaitu menutup ruang itu sebelum sempat terisi. Gagasan ini menemukan gaung nyata dalam edisi khusus jurnal Visual Studies bertajuk “Colourised Histories” (2025). Libby Saxton dari Queen Mary University of London mempertanyakan klaim populer bahwa mewarnai ulang foto arsip membuat subjeknya ‘tampak lebih manusiawi’. Temuannya justru sebaliknya: warna bisa menyamarkan kekerasan sejarah, memberi kesan realisme yang menenangkan pada peristiwa yang seharusnya tetap terasa mengganggu.
Martyn Jolly dari Australian National University meminjam mitos Pygmalion, sang pematung yang jatuh cinta pada patungnya sendiri hingga patung itu ‘hidup’, untuk menggambarkan hasrat di balik pewarnaan arsip: keinginan menghidupkan masa lalu lewat warna, padahal foto hitam-putih sesungguhnya sudah ‘hidup’ sejak awal, lewat imajinasi setiap orang yang memandangnya. Liz Watkins dan Dominic Williams, penyunting edisi khusus tersebut, merangkumnya dalam satu pertanyaan mendasar: apa yang dipertaruhkan ketika warna ditambahkan ke arsip yang semula direkam dalam hitam-putih? Pertanyaan itu sendiri sudah mengakui bahwa hitam-putih bukan sekadar ketiadaan, melainkan medium dengan kekuatannya sendiri.
Pengalaman ini terasa familiar bagi siapa pun yang sering menggulir linimasa media sosial: foto berwarna yang terlalu jenuh dan terlalu ‘sempurna’ hingga tidak menyisakan satu pun pertanyaan bagi yang melihatnya. Di titik inilah letak ironi terbesarnya. Warna, yang semula diklaim sebagai bentuk kelengkapan, justru bisa menjelma menjadi bentuk penutupan, sementara ketiadaannya, yang selama ini dianggap sebagai kekurangan, justru menjadi pintu yang tetap terbuka untuk bisa kita mereka-reka, berimajinasi.


V. Sepenggal Cerita dari Balik Lensa
Kemajuan kamera digital hari ini nyaris sempurna secara optis maupun warna. Ketajaman lensa semakin tinggi, rentang dinamis semakin lebar, dan reproduksi warna semakin akurat mendekati apa yang dilihat mata telanjang. Bahkan color grading (pengolahan nuansa dan karakter warna pada foto) kini bisa dilakukan langsung di dalam kamera, sebelum jepretan pun selesai diproses. Namun, lama-kelamaan, kesempurnaan semacam ini justru terasa menjemukan. Ada titik di mana warna yang terlalu akurat, terlalu rapi, terlalu ‘benar’, justru kehilangan sesuatu yang lebih penting, yaitu ruang bagi mata untuk terus mencari.
Ketiadaan warna membantu sebuah foto berbicara lebih universal, melepaskan subjek dari penanda waktu dan tempat yang terlalu spesifik, sehingga yang tersisa adalah esensi ekspresi dan momennya saja.
Dalam beberapa kesempatan pekerjaan editorial, ada usaha yang cukup sering dilakukan untuk mendorong foto tampil dalam hitam-putih, baik untuk photo story (rangkaian foto yang membangun sebuah narasi) maupun potret tunggal, meski disadari betul bahwa pilihan ini secara umum lebih sulit diterima dan kurang populer dibanding versi berwarnanya. Klien atau redaksi tidak selalu langsung sepakat, sebab warna dianggap lebih “aman” dan lebih mudah dijual. Namun justru di titik ketidaknyamanan itulah letak nilainya, semacam keinginan untuk kembali ke kesederhanaan awal fotografi, ke masa ketika sebuah gambar hanya berbicara lewat bentuk, cahaya, dan bayangan.
Memilih hitam-putih adalah sebuah usaha untuk mengajak pembaca ikut mengerjakan sesuatu, yaitu mengisi kembali warna yang sengaja dilepaskan itu dengan imajinasinya sendiri. Bukan warna yang ditentukan oleh kalibrasi sensor kamera, melainkan warna yang lahir dari ingatan, perasaan, dan interpretasi masing-masing orang yang memandangnya.


VI. Warna yang Kita Bayangkan Sendiri
Pada akhirnya, setiap kali kita menghilangkan warna dari sebuah foto, kita sesungguhnya sedang melakukan tindakan kepercayaan, yaitu kepercayaan bahwa mata dan hati penonton mampu melengkapi apa yang sengaja kita tinggalkan kosong. Ini bukan tentang kekurangan teknologi atau nostalgia usang. Ini tentang keberanian untuk tidak menjelaskan segalanya. Di dunia yang kian dibanjiri warna-warna jenuh dan citra yang dipoles berlebihan hingga tak menyisakan ruang tafsir, foto hitam-putih justru menjadi bentuk pemberontakan yang sunyi, sebuah pengingat bahwa gambar paling kuat bukanlah yang menunjukkan segalanya, melainkan yang berani menyembunyikan cukup banyak untuk membuat kita, sang penonton, akhirnya harus melihat ke dalam diri kita sendiri. Warna menunjukkan dunia sebagaimana adanya. Ketiadaannya menunjukkan dunia sebagaimana kita membayangkannya, dan barangkali, di situlah letak kebenaran yang lebih dalam.
Dan terkadang, yang diperlukan hanya memejamkan mata agar sungguh-sungguh bisa melihat foto dengan seksama.




