LIVING HISTORY, Wayang Orang Bharata is keeping alive a traditional art form
Wayang orang is a traditional javanese theater often compared to...
Wayang orang is a traditional ...
Read MoreWayang orang is a traditional javanese theater often compared to...
Wayang orang is a traditional ...
Read MoreNasib gajah Sumatra (Elephas maximus sumatranus) di Riau tidaklah terlalu...
Nasib gajah Sumatra (Elephas m...
Read MorePhinisi may be the world’s last seaworthy wooden sailboats still...
Phinisi may be the world’s las...
Read MoreMy travel photo story about Jomblang and Grubug cave, which have...
My travel photo story abou...
Read MoreOdometer, alat pengukur jarak di mobil, mencatat 4.786 kilometer. Perjalanan...
Odometer, alat pengukur ja...
Read MoreAt 2,000 meters above sea level, the moun- tains are...
At 2,000 meters above sea ...
Read MoreIn a place known better for its cigarettes, PD Taru Martani is the country’s oldest and largest cigar maker. Taru Martani was initially built under the name of N.V. Negresco in 1918. Three years later, in 1921, this cigar factory moved to Yogyakarta. After World War II was taken over by the late Sri Sultan Hamengkubuwono IX and renamed Taru Martani, Javanese for the leaves of life.

Kemegahan sebuah kota yang berpadu dengan kenyamanan hidup di sebuah...
Kemegahan sebuah kota yang ber...
Read More

Goddes of Mercy Temple
Siapa yang tidak suka traveling, khususnya bagi ‘penggila’ fotografi ? Hampir semua fotografer saya pikir sangat suka melakukan perjalanan, tentu dengan cara dan tempat yang sesuai dengan selera masing-masing.
Naskah dan Foto oleh: Ahmad Zamroni
Kabut bergelanyut diantara tegak batang pepohonan. Sebagian terbang menuju tempat yang lebih hangat. Belukar yang daunnya telah rontok di musim gugur, tampak diantara sayup-sayup putihnya. Rumput dan tanah masih basah sisa hujan lalu. Diantara dingin desau angin di musim winter saya bergegas. Menyusuri jalan tanah dan berbatu. Gelap yang begitu cepat hadir dimusim dingin, sedikit menyulitkan saya. Di bumi perkemahan ini, beberapa kali saya berputar-putar tak tentu arah. Mencari tempat yang bagus untuk sekedar mendirikan tenda. Selain datar, kering, dan terlindung, yang tidak kalah penting tentunya tidak jauh dari arena tempat dilangsungkannya The Dreaming Festival, salah satu festival besar yang digelar di Woodford, salah satu kota kecil di negara bagian Queensland, Australia. Sebuah festival yang dilangsungkan di akhir minggu panjang di bulan Juni. Berlangsung selama tiga hari tiga malam.
