Top
Mengenal ‘Editorial Portrait’ – Ahmad Zamroni's Blog
fade
1794
single,single-post,postid-1794,single-format-standard,eltd-core-1.1,flow-ver-1.3.5,,eltd-smooth-page-transitions,ajax,eltd-blog-installed,page-template-blog-standard,eltd-header-standard,eltd-fixed-on-scroll,eltd-default-mobile-header,eltd-sticky-up-mobile-header,eltd-dropdown-slide-from-bottom,wpb-js-composer js-comp-ver-5.0,vc_responsive
Ahmad Zamroni's Blog / Editorial  / Mengenal ‘Editorial Portrait’
Lion Air chief executive officer (CEO) Rusdi Kirana poses for a portrait at  a maintenance, repair and overhaul (MRO) facility ,Hang Nadim International Airport, Batam.
The new MRO centre, to be called Batam Aero Technic, will handle heavy maintenance for Lion Group airlines, as well as heavy checks for third-party customers. Photo by Ahmad Zamroni

Mengenal ‘Editorial Portrait’

Seniman Sunaryo diantara karyanya.

Seniman Sunaryo diantara karyanya.

 

Portrait merupakan kata yang sangat tidak asing bagi hampir semua orang, terutama yang berusia dewasa. Bisa dikatakan Portrait merupakan sebuah genre tertua dari fotografi yang paling sering dijumpai dimana-mana. Dari sebuah Kartu Tanda Penduduk (KTP) hingga buku-buku sejarah yang penting.

Portrait photography or portraiture adalah fotografi dari seseorang atau beberapa orang yang menampilkan expression, personality, dan mood dari subjek tersebut. Seperti jenis portraiture yang lainnya, focus dari foto tersebut pada umumnya adalah muka dari orang tersebut walaupun keseluruhan tubuh,latar belakang, dan beberapa hal lain yang berkaitan mungkin juga ikut ditampilkan.

 

SINGGIH KARTONO may only produce 1,500 units of his #MagnoRadio a year but that did not stop him from making Magno into a global brand. In 2009, Magno was awarded the Brit Insurance Design of the Year, a prestigious creative award in England. It was also once displayed in the Design Museum of London and the Museum of Modern Art (#MoMA) in New York, and its product were also once sold in the MoMA gift shop. Magno radio’s Singgih Kartono is proving a high-end product can be produced in a small village and sold worldwide.

Singgih Kartono dengan kartanya yang mendunia, Radio Kayu Magno dan Sepeda Bambu.

“A photographic portrait is a picture of someone who knows he’s being photographed, and what he does with this knowledge is as much a part of the photograph as what he’s wearing or how he looks. He’s implicated in what’s happening, and he has a certain real power over the result. A portrait is not a likeness. The moment an emotion or fact is transformed into a photograph it is no longer a fact but an opinion. There is no such thing as inaccuracy in a photograph. All photographs are accurate. None of them is the truth. “ – Richard Avedon

“When I view a portrait, I want it to communicate something of the nature of the person, not just look like someone.” – Malcolm Mathieson

 “In a portrait, I’m looking for the silence in somebody. Each shot is not just technically well crafted, but comes with a deeper meaning — an insight into society and the minds of the people in it.”- Henri Cartier-Bresson

Jika membicarakan tentang portrait photography, bisa dibilang semua orang yang punya kamera pernah dan bisa melakukannya. Ada yang berhasil merekamnya sehingga tampil menarik dan penuh nilai seni namun tidak jarang tampil biasa-biasa saja. Melihat hal tersebut yang menjadi pertanyaan berikutnya, apa yang membuat sebuah foto portrait menjadi istimewa dan selalu dikenang?

Sebuah foto portrait yang bagus tidak hanya sekedar memindahkan bentuk fisik seseorang kedalam sebuah foto, tetapi juga harus mengandung unsur unsur personality, sikap, dan unsur unsur lain yang menggambarkan subjek foto tersebut. Foto Portrait dengan unsur – unsur inilah yang dinamakan character portrait photography.

1120-

Achmad Dradjat, perintis dan pencipta seni bela diri Tarung Derajat. Difoto di tempat latihannya di Bandung, melalui cermin besar yang ada di ruangan tersebut.

Seorang fotografer portrait yang baik harus bisa menangkap karakter yang dimiliki subjek fotonya. Ada banyak cara agar seorang fotografer bisa mendapatkan karakter subjeknya. Seorang fotografer sebaiknya melakukan pendekatan personal kepada subjek, apalagi jika kita baru pertama kali bertemu dengan subjek. Membangun kedekatan personal antara fotografer dan subjek akan sangat membantu. Jika kita sebelumnya sudah kenal dengan subjek itu akan sangat mudah, tetapi jika baru pertama kali bertemu mungkin lebih sulit. Biasanya kita bisa membangun kedekatan dengan cara berkenalan terlebih dahulu dan melakukan pembicaraan santai mengenai orang yang menjadi subjek foto tersebut. Dengan begitu subjek akan merasa nyaman untuk difoto oleh kita sebagai seorang fotografer.

next

(Kiri-Kanan) Arif Patrick Rachmat, 40, CEO of Triputra Agro Persada ; Anthony Akili, 42, CEO of Smailing Tour; Jonathan Tahir , 28, Vice Chairman of Mayapada Group ; Anne Patricia Sutanto, 43, Vice President Director of Pan Brothers ; Noni Purnomo , 46, CEO of Blue Bird Group Holding ; Bryan Tilaar, 44, President Director of Martina Berto; David Soeryadjaja , 37, CEO of Ramba Energy Ltd ; Christina Suriadjajai, 24, Co-Founder of Travelio.com. Selain memotret, fotografer perlu memiliki imajinasi akan tata letak (layout), posisi teks dan masthead, perlunya space dalam foto yang dibuat.

Editorial Portrait

Editorial Portrait atau Potret Editorial adalah foto portrait yang digunakan untuk keperluan editorial. Editorial ini mengacu kepada beberapa bentuk publikasi seperti buku, majalah, surat kabar, dan media masa online.

Walaupun sebenarnya, awal penggunaan istilah Editorial disini digunakan untuk membedakan bidang lain seperti corporate, advertising, general commercial, atau fine art, namun dewasa ini dalam segi bahan (portrait tersebut) bisa mempunyai kemiripan. Hal ini dikarenakan foto portrait dengan style editorial sudah menjadi hal yang umum dikenal karena peran media masa.

Ada dua jenis Editorial Portrait yang sering digunakan yaitu Close-Up Portrait dan Environment Portrait. Close-Up disini mengandung pengertian bahwa yang difoto hanyalah subject saja walaupun tidak selalu foto muka saja dan kadang tidak berkorelasi dengan jarak pemotretan. Sedangkan Environmen Portrait adalah foto yang juga merekam lingkungan yang ada selain subject yang menjadi fokus utama foto. Lingkungan ini dapat berupa ruang, orang, mesin, mobil, tanaman, pohon, atau gabungan diantara hal tersebut.

 

Close-Up Portrait dari Tex Saverio perancang busana Indonesia.

Close-Up Portrait dari Tex Saverio perancang busana Indonesia.

Tantangan dalam pemotretan Editorial Portrait:

Waktu. Pada umumnya subjek yang akan difoto dalam Editorial Portrait mempunyai waktu yang terbatas. Anda bisa dikatakan beruntung apabila bisa mendapat waktu 30 menit atau lebih untuk melakukan pemotretan.

Familiaritas/Keakraban. Orang, lingkungan, atau tempat bisa dikatakan selalu baru dalam editorial portrait. Tidak seakrab kita mengenal studio yang biasa dipakai. Untuk itu riset juga diperlukan untuk menyiapkan segala kemungkinan berkaitan dengan foto apa yang nanti akan kita buat.

Tempat. Tempat menjadi tantangan tersendiri. Di dalam editorial portrait kita bisa memilih tempat untuk pemotretan. Apabila hal ini dilakukan tentu kita mendapat keuntungan dengan pengetahuan kita akan lokasi dan perlengkapan yang sesuai untuk dipakai. Namun tidak jarang lokasi menjadi sangat situasional, ditempat yang di pilih oleh subjek. Baik di kantor, ruang kerja, hotel, tempat umum, atau luas maupun sempit, yang semuanya memerlukan kreatifitas kita dalam merencanakan pemotretan dalam waktu yang terbatas.

Samsul, 48 yo work as traditional miner for 15 years.

Potrait dari Samsul, pekerja tambang tradisional di Banjarbaru, Kalimantan Selatan. Foto ini diambil untuk melengkapi photo story tentang penambangan tradisional di tempat ini.

Alat. Akan sangat menyenangkan apabila kita bisa menggunakan peralatan ideal macam lampu dan segala aksesorisnya. Namun sering karena situasi yang ada juga waktu yang terbatas hanya memungkinkan kita menggunakan satu atau dua flash untuk membuat portrait.

Subjek. Akan sangat beruntung apabila subjek yang akan difoto bersahabat dan cukup bisa diajak bekerja sama. Tidak jarang akan dijumpai beberapa subjek yang sangat pemalu, tidak percaya diri, atau bahkan pemarah. Selain keahlian teknis, fotografer dituntut juga piawai dalam mensikapi situasi. Luwes dan jangan mudah panik.

Keterkaitan Cerita. Terkadang dalam editorial tidak hanya membutuhkan foto portrait yang biasa, namun fotografer diharapkan mampu mendapatkan foto portrait yang sesuai dengan cerita, artikel, tulisan yang akan menyertai foto tersebut. Tidak jarang fotografer harus mengkonsep pemotretannya terlebih dahulu guna mendapatkan cerita yang sejalan dengan informasi yang akan disampaikan.

Lion Air chief executive officer (CEO) Rusdi Kirana poses for a portrait at a maintenance, repair and overhaul (MRO) facility ,Hang Nadim International Airport, Batam. The new MRO centre, to be called Batam Aero Technic, will handle heavy maintenance for Lion Group airlines, as well as heavy checks for third-party customers. Photo by Ahmad Zamroni

Rusdi Kirana dari Lion Air di foto didalam salah satu pesawatnya yang sedang dalam proses penyelesaian interior di Batam.

 

(Dari atas kiri serah jarum jam) Susi Pudjiastuti, Menteri Kelautan dan Perikanan ; Parwati Surjaudaja, CEO Bank OCBC NISP; Noni Purnomo , CEO Blue Bird Group Holding ; Anne Aventie, Desainer.

(Dari atas kiri serah jarum jam) Susi Pudjiastuti, Menteri Kelautan dan Perikanan ; Parwati Surjaudaja, CEO Bank OCBC NISP; Noni Purnomo , CEO Blue Bird Group Holding ; Anne Aventie, Desainer.

 

Maya Tamara, Direktur Namarina Ballet. Photo by Ahmad Zamroni

Maya Tamara, Direktur Namarina Ballet. Photo by Ahmad Zamroni

 

Dari kamera ponsel  yang diunggah ke Instagram:

 

 

No Comments

Post a Comment

%d bloggers like this: