Top
‘Traveling Light’ ke Penang – Ahmad Zamroni's Blog
fade
3453
single,single-post,postid-3453,single-format-standard,eltd-core-1.1,flow-ver-1.3.5,,eltd-smooth-page-transitions,ajax,eltd-blog-installed,page-template-blog-standard,eltd-header-standard,eltd-fixed-on-scroll,eltd-default-mobile-header,eltd-sticky-up-mobile-header,eltd-dropdown-slide-from-bottom,wpb-js-composer js-comp-ver-5.0,vc_responsive
Ahmad Zamroni's Blog / Travel  / ‘Traveling Light’ ke Penang
Asap dupa dan burung merpati menghiasi klenteng Kong Hock Keong atau Goddes of Mercy Temple. Klenteng ini merupakan klenteng pertama di Penang, yang selesai dibangun pada 1800.

‘Traveling Light’ ke Penang

Siapa yang tidak suka traveling, khususnya bagi ‘penggila’ fotografi? Hampir semua fotografer saya pikir sangat suka melakukan perjalanan, tentu dengan cara dan tempat yang sesuai dengan selera masing-masing. Bahkan beberapa diantara kita rela membawa banyak sekali perlengkapan fotografi. Mulai dari body kamera profesional lebih dari satu, berbagai macam lensa dari super wide lense hingga telephoto lens, tripod, flash, serta gears yang lain, demi mendapatkan foto-foto yang indah dan membanggakan. Ini merupakan hal yang biasa dan sah-sah saja, karena untuk apa kita membelinya kalau tidak untuk menggunakannya.

Namun perjalanan saya kali ini ke Pulau Penang, Malaysia, sangatlah berbeda dengan kebiasaan tersebut. Karena bukan merupakan perjalanan penugasan (assignment) maka saya memilih melakukan perjalan dengan ringan saja (traveling light). Saya tidak ingin mengurangi kenikmatan wisata ini dengan beban yang berlebihan. Nyaman, menarik, asik, dan masih bisa memuaskan diri dengan membuat foto yang menarik dan bermakna. Itu yang ada di kepala saya sebelum melakukan perjalanan ini.

Hanya dengan menggunakan tas punggung 22 liter dan tas kamera kecil, saya mengunjungi pulau yang dikenal sebagai Mutiara Timur ini. Backpack saya isi dengan 2 baju, 2 celana jeans, 1 kaos, 1 celana pendek, 2 pakaian dalam, 1 handuk microfibre, peralatan mandi, dan laptop. Baju saya memilih membawa baju ‘outdoor’ yang ringan dan mudah kering kalau dicuci. Jeans merupakan celana favorit, walau berat tapi cukup tahan ‘kotor’. Kalaupun kotor toh saya tidak berencana untuk mencucinya sendiri. Semua pakaian tersebut saya masukkan ke dalam tas punggung dengan cara menggulungnya satu persatu, tidak dilipat seperti kebiasaan kita menyimpannya sehari-hari, karena itu akan banyak memakan tempat.

Memang, sayang sekali saya harus membawa laptop 13 inchi tersebut, kalau tidak pasti saya bisa menghemat beban 2,5 kg di punggung saya. Namun karena ada presentasi yang harus saya lakukan di Kuala Lumpur terlebih dahulu, terpaksa saya membawanya.

Tas kecil saya isi dengan pasport, tiket, alat tulis, berbagai macam charger, recorder, dan tentunya kamera yang mempunyai berat kurang sekitar 0,5 kg dengan satu-satunya lensa yang menempel dibadannya. Keuntungan membawa kamera yang ringan adalah membuat kita semakin punya banyak tenanga untuk memikirkan apa yang akan difoto. Berbeda bila sudah terbebani banyak perlatan, kadang untuk mengeluarkannya dari dalam tas saja kita sudah berasa berat, dan sangat sering objek bagus tidak mau menunggu dan hilanglah kesempatan kita mengabadikan momen berharga tersebut.

Suasana senja dari dalam taksi. Sebagian besar taksi di Pulau Penang tidak menggunakan tarif argo atau meteran, namun dengan sistem tawar-menawar.

Salah satu sudut kota George Town, Penang. Awalanya kota ini merupakan dataran berawa yang kemudian dirubah menjadi permukiman moderen oleh Inggris.

Setibanya di Bandar Udara, Bayan, Penang, saya lngsung menuju George Town, pusat kota Pulau Penang yang dijadikan oleh UNESCO sebagai salah satu kota warisan budaya dunia. Tidaklah sukar melakukan perjalan di kota ini. Selain peta wisata yang disediakan sangat jelas, juga nama-nama jalan terpasang sangat rapi. Kalaupun kebingungan, kita masih bisa menayakan dengan orang lokal yang mengerti bahasa melayu. Pendek kata kota yang didirikan pada 1786 oleh Kapten Francis Light, seorang pedagang British East India Company ini, cukup mudah untuk dijelajahi bahkan oleh seorang pelancong pemula sekalipun.

Seorang pesepeda melintas di sebuah bangunan tua di Kota George Town. Banyak bangunan tua terus direstorasi oleh pemerintah setempat ataupun swasta untuk keperluan investasi.

Dua hari saya menjelejahi kota yang sangat kental dengan arsitektur kolonial dengan citarasa Melayu, China, Arab, Eropa, dan India ini. Menyusuri warisan-warisan budaya Islam, Tao, Hindhu, Budha, Protestan yang berbaur tanpa banyak menimbulkan masalah yang berarti. Sebagian besar perjalanan saya lakukan dengan berjalan kaki santai saja. Sesekali berhenti dan berbincang-bincang dengan penduduk lokal.

Ringan dan menyenangkan, itulah yang saya rasakan saat mengunjungi tempat ini, tanpa mengurangi esensi sebuah perjalanan. Menemui orang-orang baru dan melihat budaya lokal. Kemudian pulang dengan cerita dan wawasan baru, juga pemahaman diri yang bertambah. (Ahmad Zamroni)

Becak di Penang yang dominan dengan warna kuning dengan berhiaskan bunga dan payung untuk melindungi penarik becak dari sengatan matahari.

Kesibukan di daerah pertokoan ‘Little India’. Tidak hanya China dan Melayu, budaya India Eropa, juga Arab ikut mewarnai kota ini.

Tiga penumpang terlihat di jendela bis yang disebut ‘Rapid Penang’. Selain penumpang juga terlihat refleksi Masjid Kapitan Keling yang dibangun pada 1801.

Beberapa pengunjung menikmati keindahan lantai atas rumah tradisional milik warga China peranakan (the Pinang Peranakan Mansion). Dibangun pada akhir abad ke-19 oleh salah satu tokoh lokal terkenal ‘Hai Kee Chan’ atau Sea Remembrance Store.

Foto-foto dan televisi lama terpasang di salah satu dinding The Pinang Peranakan Mansion. China peranakan telah menciptakan gaya hidup yang unik, tidak hanya meninggalkan warisan yang kaya barang antik, tetapi pengaruh budaya seperti masakan dan bahasa yang masih terlihat di Penang saat ini.

Dua orang warga Penang sedang berbincang santai di depan toko barang antik miliknya.

Kakek yang berusia lebih dari 75 tahun ini masih setia menunggu pelanggan datang di toko obat miliknya.

Seorang warga yang tinggal di Pangkalan Wield (Clan Jetties) melakukan ritual di depan rumahnya. Clan Jetties merupakan permukiman unik yang dibangun diatas dermaga yang terbuat dari kayu.

Asap dupa dan burung merpati menghiasi klenteng Kong Hock Keong atau Goddes of Mercy Temple. Klenteng ini merupakan klenteng pertama di Penang, yang selesai dibangun pada 1800.

Ahmad Zamroni is a photographer based in Jakarta.

No Comments

Post a Comment

%d bloggers like this: