Top
Gajah di Riau – Ahmad Zamroni's Blog
fade
335
single,single-post,postid-335,single-format-standard,eltd-core-1.1,flow-ver-1.3.5,,eltd-smooth-page-transitions,ajax,eltd-blog-installed,page-template-blog-standard,eltd-header-standard,eltd-fixed-on-scroll,eltd-default-mobile-header,eltd-sticky-up-mobile-header,eltd-dropdown-slide-from-bottom,wpb-js-composer js-comp-ver-5.0,vc_responsive
Ahmad Zamroni's Blog / Editorial  / Gajah di Riau
Mata gajah.

Gajah di Riau

Nasib gajah Sumatra (Elephas maximus sumatranus) di Riau tidaklah terlalu menggembirakan. Keberadaan mereka sekarang seakan menjadi sebuah dilema.

Bila kita tengok di Pusat Konservasi Gajah Sultan Syarif Hasyim atau juga dikenal dengan Pusat Latihan Gajah (PLG) Tahura, Minas, Riau, kehidupan puluhan hewan mamalia darat raksasa ini cukup menarik. Melihat mereka saat  mandi di sungai atau menjelajah hutan di atas punggung gajah-gajah yang sudah terlatih tersebut, menjadi hiburan tersendiri. Duduk dan bercanda ditemani anak gajah yang lucu menjadi pengalaman yang tak terlupakan.

Namun disisi lain konflik yang terjadi antara manusia dengan gajah juga semakin meningkat setiap tahunnya. Bahkan beberapa pekan waktu silam kawanan gajah mengamuk di permukiman Kelurahan Balai Raja, Kecamatan Pinggir, Kabupaten Bengkalis. Tiga rumah serta puluhan hektar perkebunan rusak.  Bahkan amukan gajah tersebut memaksa anak-anak dan wanita untuk diungsikan ke kantor kelurahan selama dua pekan.
Tim penjinak gajah dari Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Provinsi Riau bersama beberapa personil Dishut Riau dan staf WWF kemudian turun untuk mengendalikan masalah ini. Dua gajah penjinak yang dipinjam dari PLG Tahura, Minas juga ikut diterjunkan untuk mempermudah penangkapan 10 ekor gajah liar tersebut.

Permasalahan gajah dan manusia menjadi suatu konflik yang tidak berkesudahan dan sampai saat ini belum ditemukan solusi yang tepat. Konflik satwa liar dengan masyarakat yang sering terjadi ini merupakan gambaran, terjadinya ketidakseimbangan ekosistem yang ada.

Konversi hutan alam yang menjadi tempat tinggal hewan berbelalai ini disinyalir menjadi salah satu penyebab utama munculnya masalah tersebut. Laju kerusakan hutan di Riau yang mencapai 160 ribu hektare per tahunnya serta meningkatnya luas perkebunan sawit dan juga permukiman telah mempersempit habitat hewan langka yang mempunyai daerah jelajah (home range) cukup luas ini. Sempitnya ruang jelajah tentu juga berakibat berkurangnya persediaan pakan bagi hewan yang membutuhkan makan tiap harinya kurang lebih 10 persen dari bobot tubuhnya ini.

Teks dan foto: Ahmad Zamroni

Vera, salah satu anak gajah  bermain di salah satu tempat berkumpul warga di PLG Tahura, Minas.

Vera, salah satu anak gajah bermain di salah satu tempat berkumpul warga di PLG Tahura, Minas.

Vera, salah satu anak gajah di PLG Tahura, Minas.

Vera, salah satu anak gajah di PLG Tahura, Minas.

Dua orang wisatawan lokal menikmati pemandangan dari atas punggung Kampar, gajah yang telah dilatih di Pusat Latihan Gajah (PLG) Tahura, Minas.

Dua orang wisatawan lokal menikmati pemandangan dari atas punggung Kampar, gajah yang telah dilatih di Pusat Latihan Gajah (PLG) Tahura, Minas.

Sheila, salah satu gajah dari 40-an gajah di Pusat latihan Gajah (PLG) Tahura, Minas menunggu untuk dimandikan pawangnya.

Sheila, salah satu gajah dari 40-an gajah di Pusat latihan Gajah (PLG) Tahura, Minas menunggu untuk dimandikan pawangnya.

Seorang bocah dan seorang wisatawan menikmati keramahan satwa langka ini di PLG Tahura Minas.

Seorang bocah dan seorang wisatawan menikmati keramahan satwa langka ini di PLG Tahura Minas.

IMG_1338_az

Dua pawang gajah yang duduk diatas gajah pemikat atau pendamping Indah (kiri) dan Seng Arun (kanan) mengikat satu dari sepuluh gajah liar di Kelurahan Balai Raja, Kecamatan Pinggir, Kabupaten Bengkalis.

Dua pawang gajah yang duduk diatas gajah pemikat atau pendamping Indah (kiri) dan Seng Arun (kanan) mengikat satu dari sepuluh gajah liar di Kelurahan Balai Raja, Kecamatan Pinggir, Kabupaten Bengkalis.

Wisatawan manca negara menikmati keramahan gajah.

Wisatawan manca negara menikmati keramahan gajah.

Wisatawan asing berpose bersama seekor gajah saat mengunjungi salha satu objek wista di daerah Lampung.

Wisatawan asing berpose bersama seekor gajah saat mengunjungi salha satu objek wista di daerah Lampung.

Gajah-gajah terlatih di Festival Krakatau.

Gajah-gajah terlatih di Festival Krakatau.

Dua penari melewati bis bergambar gajah di Bandar Lampung.

Dua penari melewati bis bergambar gajah di Bandar Lampung.

10 Comments
  • Roni

    Wah, menarik sekali Mila, kirim detilnya ke emailku ya, ahmadzamroni(at)gmail(dot)com, thanks….

    April 15, 2011 at 6:12 am
  • Karmila Parakkasi

    mas,
    aku undang ke Taman Nasional Tesso Nilo, mau tak?
    WWF Indonesia dan Balai TNTN mengembangkan program mitigasi konflik gajah-manusia dengan “flying squad”

    April 15, 2011 at 6:01 am
  • roni

    Sejauh sepengetahuan saya hanya merupakan ‘psywar’ saja, karena biasanya gajah penjinak lebih besar, kuat, dan tua dari yang akan dijinakkan.

    June 21, 2010 at 2:25 am
  • roni

    Sejauh sepengetahuan saya hanya merupakan ‘psywar’ saja, karena biasanya gajah penjinak lebih besar, kuat, dan tua dari yang akan dijinakkan.

    June 20, 2010 at 7:25 pm
  • chyntia dessy

    Saya penasaran apa yang bisa dilakukan gajah penjinak untuk mengendalikan gajah liar ya?

    June 20, 2010 at 1:01 pm
  • chyntia dessy

    Saya penasaran apa yang bisa dilakukan gajah penjinak untuk mengendalikan gajah liar ya?

    June 20, 2010 at 6:01 am
  • roni

    Thanks, mas Eko, salam buat keluarga, juga sang gajah.

    February 11, 2010 at 8:27 am
  • roni

    Thanks, mas Eko, salam buat keluarga, juga sang gajah.

    February 11, 2010 at 8:27 am
  • eshape

    Salam

    Anakku pasti seneng lihat gambar-gambar seperti ini.
    Ada ceritanya lagi.

    Hehehe…majalah National Geographics u anak-anak edisi lalu juga memuat tentang gajah dan anakku seperti dapat hadiah yang nilainya jauh lebih besar dari harga majalah itu

    Salam

    February 11, 2010 at 6:43 am
  • eshape

    Salam

    Anakku pasti seneng lihat gambar-gambar seperti ini.
    Ada ceritanya lagi.

    Hehehe…majalah National Geographics u anak-anak edisi lalu juga memuat tentang gajah dan anakku seperti dapat hadiah yang nilainya jauh lebih besar dari harga majalah itu

    Salam

    February 11, 2010 at 6:43 am

Post a Comment

%d bloggers like this: