Top
Mengenal ‘Street Photography’ – Ahmad Zamroni's Blog
fade
1261
single,single-post,postid-1261,single-format-standard,eltd-core-1.1,flow-ver-1.3.5,,eltd-smooth-page-transitions,ajax,eltd-blog-installed,page-template-blog-standard,eltd-header-standard,eltd-fixed-on-scroll,eltd-default-mobile-header,eltd-sticky-up-mobile-header,eltd-dropdown-slide-from-bottom,wpb-js-composer js-comp-ver-5.0,vc_responsive
Ahmad Zamroni's Blog / Editorial  / Mengenal ‘Street Photography’
Screen shot 2012-07-19 at 12.29.05 PM

Mengenal ‘Street Photography’

 

“To me, photography is an art of observation. It’s about finding something interesting in an ordinary place… I’ve found it has little to do with the things you see and everything to do with the way you see them.”

– Elliott Erwitt

Saat kamera fotografi menjadi lebih begitu portabel dan mudah dalam mengoperasikannya, sebuah dunia baru terbuka untuk pecinta fotografi. Alat yang selama ini hanya banyak ditemui di studio-studio foto, kamera yang kemudian menjadi mudah dibawa-bawa ini, banyak merekam dunia luar. Sebuah spirit street photography telah lahir.

Sekarang, di era digital, dimana setiap orang begitu mudah membuat foto mendadak street photography mencuat kembali. Ditambah lagi munculnya devices yang begitu kompak macam  iPhone yang mampu untuk selalu berada didekat kita, telah membuat para ‘penggila’ foto mendadak menjadi (‘mengaku’) street photographer. Mengabarkan apa yang mereka temui di jalanan.

Saya rasa, tidak ada definisi baku tentang street photography. Apabila anda bertanya ke beberapa orang yang mendalami genre ini tentu akan mendapat jawaban yang berbeda-beda. Beberapa street photographer akan mengatakan bahwa street photography itu adalah merekam emosi dan ekspresi orang, sementara yang lain barangkali akan menempatkan penekanan lebih pada lingkungan perkotaan. Namun saya berkeyakinan bahwa street photography yang berhasil adalah foto-foto yang mampu menangkap ekspresi manusia dalam berinteraksi dengan lingkungan, untuk mendokumentasikan kondisi manusia tersebut kedalam gambar dua dimensi, yang dengan foto tersebut mampu menceritakannya pada pemirsa.

Pada umumnya street photography dilakukan dengan candid. Mengabadikan momen-momen yang kadang sangat spontan dan tidak bisa diprediksi juga bukan hasil rekayasa. Membiarkan adegan itu bermain, tanpa mengganggunya. Mungkin itulah uniknya genre yang sangat dekat dengan documentary photography ini.

Karena hal itu, selain kemampuan standar teknis photography macam focus, lighting, composition, seorang street photographer juga dituntut untuk mampu “become invisible”. Seperti cara kerja ‘ninja’ yang bisa menghilang dalam sebuah keramaian orang di pusat perkotaan. Anda ada, dan barangkali calon objek kita tahu keberadaan kita, namun objek tersebut serasa tidak peduli dengan kehadiran sang fotografer. Sehingga nantinya sang fotografer bisa mendapatkan gambar yang ‘natural’ atau bahkan mengejutkan karena tidak kita pikirkan sama sekali sebelumnya.

Lalu, bagaimana dengan ‘foto jalanan’ yang berhasil? Saya tidak menyebutkan foto itu baik atau buruk, tapi lebih suka menyebutnya berhasil dan tidak berhasil. Memang, terkadang berhasil sering berkonotasi dengan baik, dan tidak berhasil berasosiasi dengan buruk. Sebenarnya banyak kriteria untuk membuat foto ‘street’ kita berhasil, namun paling tidak ada 3 aspek yang bisa dibilang wajib dimiliki dari foto tersebut:Pertama adalah “Decisive Moment”, sebuah istilah yang saya pinjam dari seorang “master” Henri-Cartier Bresson yang sudah umum menjadi salah satu rujukan di genre foto ini. Decisive Moment atau bisa diterjemahkan dengan momen kulminasi, merupakan suatu momen dimana semua elemen berada pada titik klimaks sinergis untuk membentuk suatu narasi dari foto tersebut. Bila terlambat 1 detik maka anda tidak akan mendapatkan momen berharga tersebut.

Aspek kedua adalah Telling Story. Foto “street” yang berhasil adalah foto yang ‘bercerita”.  Membuat pemirsanya ingin tahu lebih banyak dari apa yang ada di dalam foto tersebut. Saya pikir seorang street photographer handal berada di lokasi pemotretan bukan hanya sekedar untuk mengambil gambar yang “cantik” saja. Namun lebih jauh sebenarnya sang fotografer tersebut ingin menceritakan sesuatu yang menurutnya begitu menarik melalui gambar-gambar yang dia rekam di jalanan.

Aspek ketiga adalah “involving viewer“. Banyak street photographer menggunakan lensa tele dalam merekam gambar. Namun sebagian besar street photographer hebat yang ada akan menggunakan lensa normal dan wide. memotret dengan lensa lebar membuat foto yang kita dapatkan terasa dekat dengan objek kita. Terasa begitu intim. Seakan mengajak dan membuat pemirsa menjadi bagian dari adegan tersebut.

Memang tidak dipungkiri genre ini bisa dibilang mudah dilakukan, dalam arti ada dalam keseharian kita saat melewati kawasan umum perkotaan semacam jalanan, taman kota, pantai, pertokoan, perkantoran, dan tempat lainnya. Cuma tinggal menunggu kejelian sang fotografer untuk merekam, membekukannya menjadi sebuah gambar yang menarik. (Ahmad Zamroni)

Sometime the hearth sees what is invisible to the eye… #Yora

A photo posted by Roni 🌀 αнмα∂zαмяσиι (@roni_az) on

Everything has its beauty but not everyone sees it. – Confucius

A photo posted by Roni 🌀 αнмα∂zαмяσиι (@roni_az) on

Let your life lightly dance on the edges of time like dew on the tip of a leaf. – Rabindranath Tagore #2012bw #monoart #publicimage

A photo posted by Roni 🌀 αнмα∂zαмяσиι (@roni_az) on

1 Comment
  • Arif Z. Nurfauzan

    Matur nuwun, Mas, wejangannya. I am interested.

    May 11, 2013 at 3:17 pm

Post a Comment

%d bloggers like this: