Top
The Dreaming, Indahnya Sebuah Mimpi – Ahmad Zamroni's Blog
fade
954
single,single-post,postid-954,single-format-standard,eltd-core-1.1,flow-ver-1.3.5,,eltd-smooth-page-transitions,ajax,eltd-blog-installed,page-template-blog-standard,eltd-header-standard,eltd-fixed-on-scroll,eltd-default-mobile-header,eltd-sticky-up-mobile-header,eltd-dropdown-slide-from-bottom,wpb-js-composer js-comp-ver-5.0,vc_responsive
Ahmad Zamroni's Blog / Travel  / The Dreaming, Indahnya Sebuah Mimpi

The Dreaming, Indahnya Sebuah Mimpi

The Dreaming Festival

Naskah dan Foto oleh: Ahmad Zamroni

Kabut bergelanyut diantara tegak batang pepohonan. Sebagian terbang menuju tempat yang lebih hangat.  Belukar yang daunnya telah rontok di musim gugur, tampak diantara sayup-sayup putihnya. Rumput dan tanah masih basah sisa hujan lalu. Diantara dingin desau angin di musim winter saya bergegas. Menyusuri jalan tanah dan berbatu. Gelap yang begitu cepat hadir dimusim dingin, sedikit menyulitkan saya. Di bumi perkemahan ini, beberapa kali saya berputar-putar tak tentu arah. Mencari tempat yang bagus untuk sekedar mendirikan tenda. Selain datar, kering, dan terlindung, yang tidak kalah penting tentunya tidak jauh dari arena tempat dilangsungkannya The Dreaming Festival, salah satu festival besar yang digelar di Woodford, salah satu kota kecil di negara bagian Queensland, Australia. Sebuah festival yang dilangsungkan di akhir minggu panjang di bulan Juni. Berlangsung selama tiga hari tiga malam.

Woodford merupakan kota berjarak sekitar 80 kilometer atau ditempuh sekitar 1,5 jam dengan kendaraan bermotor dari Brisbane, ibu kota negara bagian Quenssland, Australia.  Kota kecil yang menjadi tempat digelarnya The Dreaming Festival ini sendiri terkenal karena memiliki jalan-jalan yang lebar, hotel tua dengan toko-toko gaya kolonial. Kota ini juga memiliki musium kereta musin uap yang lumayan terkenal. Pada hari libur, mereka memberikan kesempatan buat wisatawan untuk naik kereta ini. Kota ini juga memiliki beberapa perkebunan anggur yang cukup luas. Barangkali ini merupakan perkebunan yang palign dekat dengan Kota Brisbane. Setiap awal Januari mereka menggelar sebuah festival anggur yang cukup meriah.

Setelah beberapa lama akhirnya saya menumukan tempat yang cukup representatif. Cukup luas untuk mendirikan tenda, sekaligus memarkir mobil yang saya bawa didekatnya. Hari semakin gelap. Tidak banyak lampu di pasang di tempat perkemahan ini. Dengan bantuan lampu mobil, saya mulai mendirikan tenda. “Hujan bisa terjadi kapan saja, lebih baik saya memasang tenda sekarang”, begitu pikir saya. Beruntung saya membawa tenda model doom berkapasitas dua orang, yang cukup praktis untuk didirikan seorangan. Tenda yang saya bel relatif murah dengan harga diskon di kota Brisbane beberapa bulan sebelumnya. Ini kali keempat saya mendirikan tenda dan saya semakin cepat dalam memasang tiang-tiangnya.

Sayup-sayup terdengar  dari kejauhan suara Didjeridu atau didgeridoo, alat musik tiup orang Aborigin, yang dibuat dari batang pohon yang dilubangi tengahnya menyererupai terompet. Mengalun perlahan, panjang dan seakan tanpa jeda. Disusul nyanyian dengan bahasa yang sama sekali saya tidak kenal ,dan bunyi ketukan yang dilakukan secara berulang. Ritmis dan terasa begitu mistis terdengar di telinga.

Usai mendirikan tenda saya bergegas menghampiri tempat dari mana suara itu berasal.

“Hai, apa kabar?”, sapa Ali yang telah menunggu saya dengan ramah,”Tdak tersesat kan”. “ Baik, ya sedikit, kabut dan gelap sedikit menyulitkan” jawab saya. Ali adalah wanita paruh baya yang bertugas mengurus para profesional dari media yang meliput acara The Dreaming Festival. Sangat ramah dan periang, sepertinya sangat cocok sekali dengan pekerjaannya, mengurus para wartawan yang tidak jarang bertanya ini dan itu. Walaupun namanya Ali, dia bukan seorang muslim, Ali adalah orang Australia yang lahir dan besar di negara kanguru ini. Saat perjumpaan itu, dia bercerita tentang beberapa kali berkunjung ke Indonesia seperti Bali, Jakarta dan Jogjakarta. “Satai, nasi goreng, enak”, katanya dengan logat lucu sambil mencoba mengingat makanan-makan dan kata-kata lain. Tapi kemudian Ali menyerah. Setelah sedikit berbasa-basi, dan becerita ini itu tentang Indonesia dan kunjungannya, Ali kemudian menerangkan secara ringkas tentang festival ini dan beberapa tempat pertunjukan. Juga yang lebih penting soal tugas saya sebagai fotografer yang bekerja buat mereka. Setelah dirasa cukup, saya meminta diri untuk menuju festival. “Jangan lupa bersenang-senang,” kata Ali setengah berteriak saat saya akan meninggalkannya.

Saya beruntung selain bisa mengikuti festival ini. Disamping itu, menjadi fotografer buat penyelenggara tentunya mempunyai banyak kelebihan akses dipertunjukan. Namun yang lebih menarik tentunya, saya tidak perlu membayar tiket masuk yang barangkali bagi sebagain besar orang Indonesia terasa sangat mahal, sekitar AU$200, sekitar 1,5 jura rupiah, untuk dewasa dan AU$13 untuk anak-anak.

Setelah berjalan dengan jalur memutar dan panjang akhirnya saya mendapati sebuah danau. Cukup luas, berlereng di sisi-sinya dan memiliki semacam pantai yang datar dan berpasir.  Ribuan penonton telah memadati sekeliling danau. Belum terlalu terlambat ternyata. Diseberang danau, pertunjukan baru dimulai. Upacara pembukaan dari The Dreaming Festival.

The Dreaming Festival

Dua buah api unggun yang berada di bagian kanan dan kiri danau dinyalakan. Sebagai tanda dimulainya festival ini. Cukup besar hingga mampu menerangi tempat pertunjukan.  Musik-musik aborigin mulai mengalun, dimulai denga ketukan-ketukan batang kayu dan boomerang, diikuti senandung lagu dalam bahasa mereka, serta tiupan didgeridoo. Dari tempo yang pelan kemudian menjadi lagu yang bersemangat. Diselingi lengkingan dan teriakan penyanyinya. Secara bergiliran masing-masing pengisi acara yang terdiri dari beberapa suku aborigin, mementaskan tarian khas mereka. Setelah semua mendapat giliran kemudian mereka melakukan tarian kolosal yang diikuti oleh semua pengisi acara. Ada ratusan penari. Pertunjukan kolosal ini juga dimeriahkan dengan keikutsertaan sebanyak 160 siswa sekolah yang ikut menari. Muka merekapun dicerong-coreng, menari bertelanjang dada, mirip sekali dengan para penari aborigin.

The Dreaming Festival

Festival ini menampilkan lebih dari 850 seniman di bidang tari, musik, komedi, film, teater, lukis, dan kriya. Walapun berbeda jenis namun tetap satu nada, yaitu menampilkan kebudayaan penduduk asli atau pribumi, baik dari Australia maupun belahan bumi lainnya. Penyelenggaraan festival  ini mirip dengan Java Jazz Festival yang diselenggrakan di Jakarta. Menampilkan banyak artis dan juga menyediakan banyak panggung dengan jadwal yang cukup padat. Bedanya, selain menampilkan kebudayaan pribumi, festival ini menggelar kegiatannya di tempat terbuka yang berupa hutan dan semak seluas 200 hektar. Namun tentunya tidak semua areal tersebut digunakan sebagai tempat pertunjukan, sebagian digunakan sebagai bumi perkemahan baik bagi penonton, artis dan panitia sendiri. Konsepnya hampir sama dengan konsep Woodstock Festival di Woodstock, New York, AS. Namun yang ditampilkan tidak hanya musik, tetapi kebudayaan orang pribumi lainnya.

Orang pribumi Australian adalah manusia pertama penghuni benua Australia dan pulau-pulau terdekat. Istilah ini meliputi Torres Strait Islanders dan suku Aborigin. Istilah aborigin yang berasal dari bahasa latin yang bermakna ‘dari yang awal’ ini ditujukan kepada pribumi yang hidup di daratan Australia, Tasmania dan pulau-pulau yang berdekatan. Torres Strait Islanders adalah pribumi Australia yang tinggal di Kepulauan Selat Torres antara Australia dan Papua New Guinea. Mereka berbeda dari orang-orang aborigin di wajah mereka memiliki variasi yang berbeda, memiliki adat dan budaya yang berbeda. Mereka lebih suka dikenal sebagai Torres Strait Islanders bukan sebagai orang Aborigin.

The Dreaming Festival

Selama festival berlangsung beberapa kelompok tari yang terkenal kaum pribumi  dari Australi dan beberapa negara tampil disini. Kelompok tari Djilpin, Doonooch, Rikina Inma, Miwatj, Jtanpi adalah nama-nama yang sudah terkenal mewakili kebudaan aborigin. Djilpin yang berasal dari daerah Wugularr (Beswick) , Northern Territory,  Australia. Sekitar 420 kilometer dari kota Darwin yang berdekatan dengan Taman Nasional Nitimiluk. Djilpin membawakan tari yang berjudul “The Black Crow and Sugarbag Fly”.  Sedangkan kelompok tari Miwatj yang terdiri dari penari-penari dari klan Yolngu di Arnhem Land Northern Territory juga mengambil bagian di festival ini.  Mereka secara bergantian tampil, selama tiga hari pertunjukan ini.  Selain menampilkan tarian khas mereka, kelompok-kelompok tari tersebut juga memberikan workshop singkat baik mengenai tari atau cara memainkannya. Para penonton baik muda atau tua tampak asik menikmati pelajaran menari dari orang-orang asli Australia ini.

Kelompok terkenal lain yang tampil yaitu Doonooch . Grup tari ini merupakan kelompok aborigin yang berasal dari kawasan bergunung dan bersalju di bagian selatan negara bagian New South Wales.  Rombongan keluarga ini telah melakukan tur ke beberapa negara internasional. Mereka juga tampil saat pembukaan Olypiade di Sedney 10 tahun yang silam.

Kelompok Rikina Inma mewakili bangsa Anangu Pitjantjatjara Yankunytjatjara Lands, meliputi 103.000 km persegi negara terpencil di wilayah barat laut negara bagaian South Aaustralia.”Menari adalah sesuatu yang penting bagi kami, selain sebagi ritual, dengan menari kita tahu siapa diri kita”, kata Kevin salah satu penari yang saya temui setelah memainkan tari yang berkisah tentang ‘Seven Sisters dan Wati Ngintaka’. Sebuah kisah klasik kelompok aborigin. “Tarian ini juga membantu budaya Anangu tetap kuat dan bertahan’, sambungnya. Berbincang dengan beberapa diantara mereka memang mengasikkan. Seakan membuka perspektif baru akan negara Australia. Tidak hanya sekedar keindahan dan kerapian kota-kotanya tapi sebuah budaya yang mengakar dan berusia tua. Namun sayangnya tidak semua orang aborigin disini bisa berbahasa inggris. Ini lah yang menjadi kendala buat berinteraksi dengan mereka. Orang-orang tua kebanyakan hanya bisa berbahasa suku mereka. Demikian halnya dengan kelompok Tjanpi. Kelompok yang didominasi oleh wanita-wanita aborigin yang sudah berumur ini tidak bisa berbahasa Inggris. Selain menari mereka juga mempunyai keahlian dalam membuat anyaman keranjang. Hampir sama dengan keranjang-keranjang Indonesia yang di pasang di toko-toko art galerry hanya bedanya mereka mempunyai model pewarnaan alam yang khas.  Bagi pengunjung yang tertarik, kelompok Tjanpi memberikan workshop membuat keranjang selama festival berlangsung. Menari juga menjadi bagian yang tak terpisahkan dari mereka. Ketika perempuan yang berasal dari daerah persimpangan perbatasan South Australia, Northern Territory, dan Western Australia ini pergi ke hutan untuk mengumpulkan rumput, atau dalam bahasa mereka tjanpi, untuk membuat keranjang dan patung-patung, mereka juga membersihkan tanah, menyalakan api, kemudian  menyanyi dan menari.

Bagi orang awam semacam saya, tari dan nyanyian mereka terasa hampir sama. Namun sebenarnya secara bahasa dan gaya menari, sangatlah berbeda. Ada ratusan bahasa yang dipakai oleh klan-klan aborigin. Gaya menari lebih banyak dipengaruhi faktor alam dimana keluarga-keluarga itu tinggal.

Mereka menari disebuah lapangan yang mereka sebut corrobore. Lapangan corroboree adalah tempat terbuka yang menjadi semacam tempat pertunjukan, dengan tempat api sebagai pusatnya. “Kami menghangatkan roh kita di tempat api dan sekitarnya, dan kami menyampaikan cerita dan menyanyikan lagu-lagu, dengan demikian kami telah menjaga sejarah dan budaya,” kata kata Tom E. Lewis salah satu pemuka orang aborigin saat ia memberikan pelajaran menari kepada para penonton.  “Kita dalam sebuah perjalan dimana memiliki usia yang lebih tua dari kita semua, dari zaman nenek moyang”, lanjutnya.

The Dreaming Festival

Penduduk asli Selat Torrest tidah mau ketinggalan. Mereka yang mempunyai kebudayaan melanisia ini menampilkan tari Tagai Zugubau. Karena mereka hidup di kepulauan tropis secara penampilan sangat berbeda dengan aborigin di daratan Australia. Corak bunga-bunga dengan kerang-kerang laut menjadi salah satu ciri khas mereka.  Masyarakat yang berbahasa Kalau Kawau Ya ini memakai Dharis’s, sebuah ikat kepala yang dibuat dari rangkaian bunga-bunga dan rok yang terbuat dari rumput-rumputan atau dalam bahasa mereka disebut Zaraee’s.

Selain pribumi Australia, festival ini juga dimeriahkan dengan beberapa budaya pribumi dari luar Australia. Tidak cuma itu tarian gendang orang Burundi dari Afrika, tari tradisional pribumi Jamaica, Tarian Rako dari Fiji, dan Totonaca yang sangat melegenda di Meksiko juga turut ditampilkan di Festival yang mampu menyedot sekitar 20.000 pengunjung.

The Dreaming Festival

Acara-acara tari ini biasanya usai sekitar jam tujuh malam. Saat udara malam musim dingin  berubah menjadi hembusan angin yang mampu menusuk tulang. Namun kemeriahan tidak berhenti begitu saja. Bar-bar dan panggung-panggung tertutup bisa menjadi pilihan yang menarik untuk menghabiskan malam.  Banyak juga yang menikmati malam dengan berbincang-bincang di warung-warung tempat penjual makan. Festival ini selain menyediakan banyak tempat pertunjukan juga menyediakan banyak tempat makanan. Stan-stan makanan menyajikan hidangan yang variatif. Berbagai macam makanan dengan cita rasa India, Jamaika, Guatemala, Itali, Meksiko, Thailand, Belanda, dan Jerman melengkapi kemeriahan bar-bar yang juga dibuka di lokasi festival ini.  Hal tersebut yang membuat orang tua tidak ragu mengajak keluarga untuk berkemah dan menikmati festival ini. Selain cukup edukatif juga bisa menjadi tempat untuk memanjakan lidah dengan wisata kuliner.

Suasana mirip sekali dengan pasar malam di tempat ini. Cuma yang membedakan tidak ada permainan-permainan semacam komedi putar atau rumah hantu. Sebagain mereka berbincang-bincang di tempat makan, sebagain memilih menikmati musik di banyak panggung yang disediakan, dan sebagain lain memilih  menikmati fire cycle.  Mereka melingkar duduk di bangku yang dibuat dari batang kayu disekitar api unggun yang ada di tong besar. Fire cycle ini merupakan budaya orang aborigin, cara mereka mensiasati malam yang dingin, dengan berkumpul, berbincang, diselingin makan dan minum.  Dengan membawa kopi hangat di tangan saya memberanikan diri untuk berada di lingkarang hangat itu.

The Dreaming Festival

Suasana benear-benar cair, disini orang tidak lagi memandang remeh warna kulit atau suku. Mereka semua sama, berbicara, bertukar pikiran dan saling berapresias, tidak mempermasalahkan kepercayaan, profesi, maupun latar budaya. Saling berbincang dengan rasa ingin tahu tentang orang lain. Bahkan wajah asia saya cukup menarik buat mereka dengan bertanya-tanya tentang budaya-budaya Indonesia. Tidak semuanya pengunjung, ada juga beberapa adalah seniman yang mengisi acara festival ini. Memang kelebihannaya, anatara artis dan penonton juga beberapa pakar yang datang ke tempat ini bisa bergaul tanpa jarak.

Pada malam yang hangat oleh keramahan itu saya berbincang dengan salah satu orang aborigin.  Wanita muda aborigin tersebut berasal dari masyarakt Ngaanyatjarra, yang berada di kawasan barat Australia. Nama obiriginnya saya lupa karena memang susah untuk diucapkan. Dia sempat menyelesaiaknan sarjana dan sekarang bekerja untuk komunitas Ngaanyatjarra yang mempunyai budaya menganyam untuk membuat tikar atau keranjang.  Dialah yang kemudian menceritakan kepada saya akan makna the dreaming, yang awalnya saya pikir hanya nama sebuah festival biasa saja.

The Dreaming merupakan sebuah kepercayaan dari orang aborigin”, kata dia. Bagi orang aborigin the dreming atau dreamtime atau dalam istilah mereka disebut Altjeringa, dipahami sebagai masa di mana alam semesta ini diciptakan. Saat bukit-bukit, lembah, danau dan laut dibuat oleh pencipta. Atau bisa juga diartikan sebagai waktu dimana  manusia, kehidupan bumi dan semesta dimulai. Hampir sama dengan kepercayaan orang Maori, penduduk asli Selandia baru dengan Matariki. Orang Aborigin percaya ada dua macam bentuk waktu yang paralel. Salah satunya adalah kegiatan objektif sehari-hari, yang lainnya adalah siklus rohani yang tak terbatas yang disebut dreamtime, dipercayai lebih nyata daripada realitas itu sendiri. Apa pun yang terjadi dalam dreamtime menentukan nilai-nilai, simbol, dan hukum-hukum masyarakat Aborigin.  Jadi dreamtime bisa juga dimaknai sebagai sebuah jenis kepercayaan atau agama. Sebagai contoh, seorang pribumi Australia mungkin mengatakan bahwa ia memiliki Kangaroo Dreaming, atau Shark Dreaming, Owl Dreaming, Dinggo Dreaming, atau Honey Ant Dreaming. “Jangan bingung, masing-masing suku aborigin di Australia memiliki cerita tentang dreamtime ini berbeda-beda”, cetus dia diantara ceritanya kepada kami yang berkumpul di tempat itu. Memang banyaknya versi cerita dari banyak suku membuat saya sedikit bingung, namun yang pasti semua suku aborigin yang ada di Austalia tersebut memaknai the dreaming sebagai awal kehidupan. Sebuah kisah masa lalu seperti yang juga dipunyai umat beragama lain seperti Hindu, Islam, Budha, atau kristen. Kisah ini yang menjadi pegangan dan kemudian mempengaruhi cara hidup dan upacara-upacara ritual mereka.

Upacara ritual biasanya dilakukan dengan melibatkan banyak keluarga bahkan suku.  Upacara untuk memuja sang pencipta dan alam semesta ini biasanya dirayakan dengan bernyanyi, menari, membuat karya-karya seni, dan juga menikmati makanan. Hampir mirip dengan cara suku-suku di Papua dalam berupacara. Hal itulah yang ingin dilestarikan The Woodford Folk Federation, yang merupakan organisasi nirlaba, yang menjadi penyelenggara festival ini.

Waktu serasa berjalan cepat saat kita menikmati tiap detiknya. Tidak terasa tiga hari sudah saya mengikuti festival ini. Menjelang tengah malam, hari terakhir, saya kembali ke tenda yang berjarak seitar 200 meter dari tempat pertunjukan. Menjumpai lagi kantong tidur yang memberi hangat diantara dingin yang temani angin, sambil membayang tiga hari yang begitu luar biasa ini. Bergaul dengan penduduk pribumi yang rendah hati juga kaya budaya. Berbincang dengan seniman yang ramah dan tidak silau akan popularitas. Bener-benar merupakan pengalaman hidup yang menakjubkan. “Tjiinya-yan nyaku-ngurratarrartu ulcer lampatju waarka (kamu akan melihat apa yang kami kerjakan dan kamu akan melihat negara kami),” kata wanita Tjanpi di sela-sela perjumpaan kami sebelumnya. Benar juga, tanpa mengenal mereka mungkin saya tidak akan secara utuh mengenali Australia.

Seketika, ada tanya juga harap yang terlintas di kepala, akankah festival semacam ini akan hadir di tanah air. Tanah dengan ribuan pulau yang begitu berlipat kaya budaya. Lebih banyak suku yang ada. Bersama, dalam keberagaman, saling menghargai perbedaan yang diberikan alam. Akankah ada sebuah festival yang mampu mengajak masyarakat untuk lebih mengenal budaya penduduk aslinya  dengan menghadirkan banyak penonton, orang-orang yang menghargai seni sekaligus menghidupinya. Semoga saya belum tertidur dan tidak sedang bermimpi.

No Comments

Post a Comment

%d bloggers like this: