Top
Cheng Ho (Zheng He) – Ahmad Zamroni's Blog
fade
67
post-template-default,single,single-post,postid-67,single-format-standard,eltd-core-1.1,flow-ver-1.3.5,,eltd-smooth-page-transitions,ajax,eltd-blog-installed,page-template-blog-standard,eltd-header-standard,eltd-fixed-on-scroll,eltd-default-mobile-header,eltd-sticky-up-mobile-header,eltd-dropdown-slide-from-bottom,wpb-js-composer js-comp-ver-5.0,vc_responsive
Ahmad Zamroni's Blog / Editorial  / Cheng Ho (Zheng He)

Cheng Ho (Zheng He)

Cheng Ho dikenal sebagai pemimpin yang handal, cerdik, arif dan mahir dalam ilmu pelayaran, juga pemeluk agama Islam yang tekun. Hal tersebut menyebabkan Cheng Ho dipilih menjadi pemimpin dalam Misi Perdamaian, membuka jalur baru yang sangat diperlukan demi melancarkan perdagangan, menjalin hubungan diplomasi persahabatan, dan tukar menukar kemajuan teknologi kepada negara-negara tetangga, termasuk negara-negara Islam yang ada di semenanjung lautan Hindia.

[singlepic id=89 w=525 h=525 mode=watermark float=]

Misi perdamaian Cheng Ho berangkat pada bulan Juli 1405, 600 tahun yang silam, dengan terdiri lebih dari 200 armada. Misi Perdamaian ini juga singgah di Bukit Simongan Semarang. Cheng ho kemudian mendapat gelar Sam Poo Tay Djien* dan untuk menghormatinya didirikan tempat ibadah – Klenteng Gedung Batu – yang juga disebut Sam Poo Kong. Selama beratus-ratus tahun, Klenteng Sam Poo Kong telah menjadi tempat tujuan wisatawan dan peziarah dari seluruh dunia untuk memperingati Laksamana Cheng Ho. Perayaan 600 tahun pelayaran legendaris menjelajah lautan oleh Laksamana Cheng Ho dirayakan oleh negara-negara yang pernah disinggahi oleh Cheng Ho. Indonesia juga turut serta memeriahkan perayaan ini dengan menyelenggarakan berbagai macam kegiatan menarik yang dipusatkan di Semarang.

*Para pakar sejarah menganggap fakta keberadaan Cheng Ho ke Semarang lemah.

[tiltviewer id=”6″ width=”550″ height=”550″]

[wpfp-link]

8 Comments
  • roni

    Kalo soal naskah, dinasti semacam Ming lebih tertib mbak. Banyak yang di catat, tidak adanya catatan biasanya karena peperangan yang terjadi di China.

    January 29, 2010 at 9:19 am
  • roni

    Kalo soal naskah, dinasti semacam Ming lebih tertib mbak. Banyak yang di catat, tidak adanya catatan biasanya karena peperangan yang terjadi di China.

    January 29, 2010 at 9:19 am
  • yovita

    Setuju! Cheng Ho memang hebat, melebihi para pelaut-pelaut Eropa. Itu yang tidak terbantahkan. Soal kesimpang siuran sejarah, itu mungkin saja terjadi, apalagi jika tidak bisa dibuktikan dengan naskah tertulis dan hanya cerita dari mulut ke mulut. Lha wong mulut manusia itu bisa menyelewengkan fakta juga kok… siapa yang tahu bahwa cerita itu benar atau tidak. Walaupun begitu kita nggak usah memperdebatkan itu. Cukuplah kita tahu dan mengakui bahwa Cheng Ho sudah banyak memberikan kontribusi bagi sejarah dunia. Terutama juga bagi sejarah Indonesia, salah satu dari banyak tempat yang sudah disinggahinya. Di Cirebon sendiri kalo kita liat di klenteng Kwan Im, Klenteng Talang atau ahkan Keraton Kasepuhan banyak cerita yang mengaitkannya dengan persinggahan Cheng Ho. Malah di Klenteng Kwan Im ada sebuah jangkar yang diperkirakan berasal dari salah satu armada Cheng Ho, tapi itupun belum bisa dibuktikan kebenarannya karena sumbernya cuma berasal dari cerita saja.

    January 29, 2010 at 9:05 am
  • yovita

    Setuju! Cheng Ho memang hebat, melebihi para pelaut-pelaut Eropa. Itu yang tidak terbantahkan. Soal kesimpang siuran sejarah, itu mungkin saja terjadi, apalagi jika tidak bisa dibuktikan dengan naskah tertulis dan hanya cerita dari mulut ke mulut. Lha wong mulut manusia itu bisa menyelewengkan fakta juga kok… siapa yang tahu bahwa cerita itu benar atau tidak. Walaupun begitu kita nggak usah memperdebatkan itu. Cukuplah kita tahu dan mengakui bahwa Cheng Ho sudah banyak memberikan kontribusi bagi sejarah dunia. Terutama juga bagi sejarah Indonesia, salah satu dari banyak tempat yang sudah disinggahinya. Di Cirebon sendiri kalo kita liat di klenteng Kwan Im, Klenteng Talang atau ahkan Keraton Kasepuhan banyak cerita yang mengaitkannya dengan persinggahan Cheng Ho. Malah di Klenteng Kwan Im ada sebuah jangkar yang diperkirakan berasal dari salah satu armada Cheng Ho, tapi itupun belum bisa dibuktikan kebenarannya karena sumbernya cuma berasal dari cerita saja.

    January 29, 2010 at 2:05 am
  • roni

    Terima kasih Mbak Ita atas komentar dan tambahan informasinya. Namun demikian perlu diingat bahwa armada Cheng Ho waktu itu (menurut catatan sejarah) terdiri dari sekitar 62 ‘boachuan’ (kapal harta) yang panjangnya mencapai 120 m dan lebar sekita 50 m yang memiliki 9 tiang, sekitar 10 kali lipat dari kapal Vasco da Gama. Selain itu ada sekitar 300 kapal ‘machuan’ dengan ukuran lebih kecil . Membawa 30.000 pasukan, 180, tabib dan puluhan pakar. Jadi sedikit lemah juga kalo ada ‘orang kedua’ sakit kok malah diturunin di Semarang. Pastinya tabib yang dibawa Cheng Ho akan lebih hebat dari tabib-tabib yang ada di Semarang.

    Ma Huan salah satu penerjemah dalam pelayaran itu membuat catatan dengan cukup detil pelayaran cheng ho di selat Malaka. Bahkan ketika armada itu mengambil belerang pun tercatat. Walau tempatnya tidak tertulis secara detil. Jadi saya pikir, tidak akan mungkin para penulis itu lupa menulis orang yang disebut “orang kedua’, apalagi sakit keras, dan tinggal di Semarang.

    Jika yang ‘mampir’ salah satu atau salah sepuluh dari 30.000 itu bisa mungkin, mengingat besarnya pasukan yang ada. Jadi saya pikir cerita Lim Thian-joe sebenarnya perlu dipertanyakan dan sekaligus diragukan. Bisa jadi dia menulis bukan karena sejarah yang berdasar perkamen-perkamen yang bisa dipercaya tapi dibuat berlandaskan cerita rakyat semata.

    Soal nama, Ma He bukan nama mandarin, itu nama Yunan, salah satu Provinsi Mongol di Asia tengah. Nama Ma pemberian ayahnya tersebut maksudnya adalah Muhammad. eStelah menjadi ‘serdadu’ diberi nama Cheng karena keberaniannya dalam peperangan di Chenglumba.

    Tapi ya gak tau benarnya yang mana ya. Ini cuma ilmu’gatuhuk0gathukan’ saya saja. Tapi walau apapun kebesaran pelayaran Cheng Ho tetap tak terbantahkan.

    January 28, 2010 at 5:30 pm
  • roni

    Terima kasih Mbak Ita atas komentar dan tambahan informasinya. Namun demikian perlu diingat bahwa armada Cheng Ho waktu itu (menurut catatan sejarah) terdiri dari sekitar 62 ‘boachuan’ (kapal harta) yang panjangnya mencapai 120 m dan lebar sekita 50 m yang memiliki 9 tiang, sekitar 10 kali lipat dari kapal Vasco da Gama. Selain itu ada sekitar 300 kapal ‘machuan’ dengan ukuran lebih kecil . Membawa 30.000 pasukan, 180, tabib dan puluhan pakar. Jadi sedikit lemah juga kalo ada ‘orang kedua’ sakit kok malah diturunin di Semarang. Pastinya tabib yang dibawa Cheng Ho akan lebih hebat dari tabib-tabib yang ada di Semarang.

    Ma Huan salah satu penerjemah dalam pelayaran itu membuat catatan dengan cukup detil pelayaran cheng ho di selat Malaka. Bahkan ketika armada itu mengambil belerang pun tercatat. Walau tempatnya tidak tertulis secara detil. Jadi saya pikir, tidak akan mungkin para penulis itu lupa menulis orang yang disebut “orang kedua’, apalagi sakit keras, dan tinggal di Semarang.

    Jika yang ‘mampir’ salah satu atau salah sepuluh dari 30.000 itu bisa mungkin, mengingat besarnya pasukan yang ada. Jadi saya pikir cerita Lim Thian-joe sebenarnya perlu dipertanyakan dan sekaligus diragukan. Bisa jadi dia menulis bukan karena sejarah yang berdasar perkamen-perkamen yang bisa dipercaya tapi dibuat berlandaskan cerita rakyat semata.

    Soal nama, Ma He bukan nama mandarin, itu nama Yunan, salah satu Provinsi Mongol di Asia tengah. Nama Ma pemberian ayahnya tersebut maksudnya adalah Muhammad. eStelah menjadi ‘serdadu’ diberi nama Cheng karena keberaniannya dalam peperangan di Chenglumba.

    Tapi ya gak tau benarnya yang mana ya. Ini cuma ilmu’gatuhuk0gathukan’ saya saja. Tapi walau apapun kebesaran pelayaran Cheng Ho tetap tak terbantahkan.

    January 28, 2010 at 5:30 pm
  • yovita

    Aku comment dikit ya Ron…..
    Ada pendapat ahli sejarah yang mengatakan bahwa Cheng Ho tidak pernah mendarat di Semarang. Karena dalam catatan sejarah Tiongkok tidak pernah disebutkan Cheng Ho pernah singgah disana. Yang mendarat disana adalah Wang Jinghong (orang kedua dalam armada itu) yang sakit keras dan sauh segera dilempar di pantai Simongan, Semarang. Mereka tinggal di sebuah goa, dan sebagian lagi membuat pondokan. Wang yang kini dikenal dengan sebutan Kiai Jurumudi Dampo Awang, akhirnya menetap dan menjadi cikal bakal keberadaan warga Tionghoa di sana. Wang juga mengabadikan Cheng Ho menjadi sebuah patung. Wang Jinghong disebut juga sebagai Mbah Ledakar atau Juragan Dampo Awang. Dialah yang membangun kelenteng Sam Po Kong atau Gedung Batu.
    Kaitan antara Cheng Ho dan Semarang terutama bersumber dari karangan wartawan Tionghoa di zaman Belanda, Lin Tian-you (Lim Thian-joe) dalam karya tulisnya, Riwajat Semarang (San Bao Long Li Shi). Namun ada yang berpendapat bahwa kemungkinan nama Semarang tidak disebutkan dalam Sejarah Tiongkok karena pada waktu Cheng Ho datang ke pulau Jawa, Semarang belum menjadi bandar besar seperti sekarang.

    Nama Sam Po Kong berasal dari kata Sam Po (Hokkian) atau San Bao (Mandarin) adalah nama kecil dari Cheng Ho atau Zheng He (Mandarin). Ia sebenarnya bernama asli Be Ho (Ma He = Mandarin), namun setelah masuk menjadi kasim di istana, ia diberi marga Zheng.

    Selain Cheng Ho, ia juga terkenal dengan nama Sam Po Tai Kam (San Bao Tai Jian = Kasim San Bao). Kong dalam Sam Po Kong adalah sebutan bagi yang dituakan, karakternya sama dengan akong untuk menyebut kakek.

    January 26, 2010 at 4:15 am
  • yovita

    Aku comment dikit ya Ron…..
    Ada pendapat ahli sejarah yang mengatakan bahwa Cheng Ho tidak pernah mendarat di Semarang. Karena dalam catatan sejarah Tiongkok tidak pernah disebutkan Cheng Ho pernah singgah disana. Yang mendarat disana adalah Wang Jinghong (orang kedua dalam armada itu) yang sakit keras dan sauh segera dilempar di pantai Simongan, Semarang. Mereka tinggal di sebuah goa, dan sebagian lagi membuat pondokan. Wang yang kini dikenal dengan sebutan Kiai Jurumudi Dampo Awang, akhirnya menetap dan menjadi cikal bakal keberadaan warga Tionghoa di sana. Wang juga mengabadikan Cheng Ho menjadi sebuah patung. Wang Jinghong disebut juga sebagai Mbah Ledakar atau Juragan Dampo Awang. Dialah yang membangun kelenteng Sam Po Kong atau Gedung Batu.
    Kaitan antara Cheng Ho dan Semarang terutama bersumber dari karangan wartawan Tionghoa di zaman Belanda, Lin Tian-you (Lim Thian-joe) dalam karya tulisnya, Riwajat Semarang (San Bao Long Li Shi). Namun ada yang berpendapat bahwa kemungkinan nama Semarang tidak disebutkan dalam Sejarah Tiongkok karena pada waktu Cheng Ho datang ke pulau Jawa, Semarang belum menjadi bandar besar seperti sekarang.

    Nama Sam Po Kong berasal dari kata Sam Po (Hokkian) atau San Bao (Mandarin) adalah nama kecil dari Cheng Ho atau Zheng He (Mandarin). Ia sebenarnya bernama asli Be Ho (Ma He = Mandarin), namun setelah masuk menjadi kasim di istana, ia diberi marga Zheng.

    Selain Cheng Ho, ia juga terkenal dengan nama Sam Po Tai Kam (San Bao Tai Jian = Kasim San Bao). Kong dalam Sam Po Kong adalah sebutan bagi yang dituakan, karakternya sama dengan akong untuk menyebut kakek.

    January 26, 2010 at 4:15 am

Post a Comment

%d bloggers like this: