Gajah di Riau
Feb 10, 2010 Articles, Photojournalism

Vera, salah satu anak gajah di PLG Tahura, Minas.
Teks dan foto: Ahmad Zamroni
Nasib gajah Sumatra (Elephas maximus sumatranus) di Riau tidaklah terlalu menggembirakan. Keberadaan mereka sekarang seakan menjadi sebuah dilema.
Bila kita tengok di Pusat Konservasi Gajah Sultan Syarif Hasyim atau juga dikenal dengan Pusat Latihan Gajah (PLG) Tahura, Minas, Riau, kehidupan puluhan hewan mamalia darat raksasa ini cukup menarik. Melihat mereka saat mandi di sungai atau menjelajah hutan di atas punggung gajah-gajah yang sudah terlatih tersebut, menjadi hiburan tersendiri. Duduk dan bercanda ditemani anak gajah yang lucu menjadi pengalaman yang tak terlupakan.
Namun disisi lain konflik yang terjadi antara manusia dengan gajah juga semakin meningkat setiap tahunnya. Bahkan beberapa pekan waktu silam kawanan gajah mengamuk di permukiman Kelurahan Balai Raja, Kecamatan Pinggir, Kabupaten Bengkalis. Tiga rumah serta puluhan hektar perkebunan rusak. Bahkan amukan gajah tersebut memaksa anak-anak dan wanita untuk diungsikan ke kantor kelurahan selama dua pekan.
Tim penjinak gajah dari Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Provinsi Riau bersama beberapa personil Dishut Riau dan staf WWF kemudian turun untuk mengendalikan masalah ini. Dua gajah penjinak yang dipinjam dari PLG Tahura, Minas juga ikut diterjunkan untuk mempermudah penangkapan 10 ekor gajah liar tersebut.
Permasalahan gajah dan manusia menjadi suatu konflik yang tidak berkesudahan dan sampai saat ini belum ditemukan solusi yang tepat. Konflik satwa liar dengan masyarakat yang sering terjadi ini merupakan gambaran, terjadinya ketidakseimbangan ekosistem yang ada.
Konversi hutan alam yang menjadi tempat tinggal hewan berbelalai ini disinyalir menjadi salah satu penyebab utama munculnya masalah tersebut. Laju kerusakan hutan di Riau yang mencapai 160 ribu hektare per tahunnya serta meningkatnya luas perkebunan sawit dan juga permukiman telah mempersempit habitat hewan langka yang mempunyai daerah jelajah (home range) cukup luas ini. Sempitnya ruang jelajah tentu juga berakibat berkurangnya persediaan pakan bagi hewan yang membutuhkan makan tiap harinya kurang lebih 10 persen dari bobot tubuhnya ini.
This ” Elephas maximus sumatranus” photo story is ongoing project and will continue…..

Vera, salah satu anak gajah bermain di salah satu tempat berkumpul warga di PLG Tahura, Minas.

Dua orang wisatawan lokal menikmati pemandangan dari atas punggung Kampar, gajah yang telah dilatih di Pusat Latihan Gajah (PLG) Tahura, Minas.

Sheila, salah satu gajah dari 40-an gajah di Pusat latihan Gajah (PLG) Tahura, Minas menunggu untuk dimandikan pawangnya.

Seorang bocah dan seorang wisatawan menikmati keramahan satwa langka ini di PLG Tahura Minas.

Dua pawang gajah yang duduk diatas gajah pemikat atau pendamping Indah (kiri) dan Seng Arun (kanan) mengikat satu dari sepuluh gajah liar di Kelurahan Balai Raja, Kecamatan Pinggir, Kabupaten Bengkalis.

Dua penari melewati bis bergambar gajah di Bandar Lampung.

Wisatawan asing berpose bersama seekor gajah saat mengunjungi salha satu objek wista di daerah Lampung.

Wisatawan manca negara menikmati keramahan gajah.

Gajah-gajah terlatih di Festival Krakatau.

Mata gajah.
Related posts:
- Cheng Ho (Zheng He)
- Tangisan Serigala Setelah Memenangkan Lomba Foto
- Vanishing forests a counterpoint to Indonesia’s climate crusade
- Indonesia Blog Award from “Internet Sehat”
- Modern, Nyaman, Brisbane
Tags: Elephas, gajah, Journalism, maximus sumatranus, Minas, Photography, Photojournalism, PLG, Riau, Sumatra, Tahura













