Top
LEMBANG MA’DONG – Keindahan, Keramahan, dan Kesederhanaan Tana Toraja – Ahmad Zamroni's Blog
fade
277
single,single-post,postid-277,single-format-standard,eltd-core-1.1,flow-ver-1.3.5,,eltd-smooth-page-transitions,ajax,eltd-blog-installed,page-template-blog-standard,eltd-header-standard,eltd-fixed-on-scroll,eltd-default-mobile-header,eltd-sticky-up-mobile-header,eltd-dropdown-slide-from-bottom,wpb-js-composer js-comp-ver-5.0,vc_responsive
Ahmad Zamroni's Blog / Travel  / LEMBANG MA’DONG – Keindahan, Keramahan, dan Kesederhanaan Tana Toraja

LEMBANG MA’DONG – Keindahan, Keramahan, dan Kesederhanaan Tana Toraja

Mengunjungi Tana Toraja yang memiliki beragam tradisi dan alam pegunungan yang elok, terasa belum lengkap apabila tidak melihat dari dekat kehidupan serta keramahan masyarakatnya. Itulah yang menjadi alasan kami berdua mengunjungi Ma’dong.

Dari Rantepao, dengan mengendarai ojek saya menuju Ma’dong. Kondisi jalan yang separuh beraspal dan separuh tanah berbatu serasa menambah keasikan tersendiri perjalanan ini. Beruntung cuaca sangat cerah karena jika hujan tentu jalan tanah dan berbatu serta menanjak yang saya lalui akan sulit dilintasi. Setelah 2 jam perjalanan dan menempuh sekitar 35 kilometer akhirnya kami sampai di tempat tujuan.

Ma’dong (baca:makdong) adalah nama sebuah desa atau istilah lokalnya lembang yang terletak di Kecamatan Rantetayo, Kabupaten Tanah Toraja, Sulawesi Selatan. Tepatnya di sebelah barat Rantepao, di kaki Gunung Napo yang mempunyai ketinggian 1578m diatas permukaan air laut.


Nama Ma’dong sendiri diambil dari nama rumah tongkonan keluarga Ma’dong yang masih kokoh berdiri. “Tongkonan ini telah didiami oleh sepuluh keturunan,” begitu tutur Nenek Ratu Dattu dalam bahasa Toraja. Wanita yang berusia lebih dari 70 tahun ini pernah tinggal di tongkonan Ma’dong, namun sekarang tongkonan ini ditempati oleh keponakannya, Merre Tulak.

Memang, dibanding denangan tongkonan lain, tongkonan Ma’dong terlihat tua dengan kayu-kayu yang mulai kusam termakan umur dan ukir-ukiran yang mulai pudar warnanya. Disamping kiri, terlihat tanduk kerbau yang berjejer rapi lebih dari 150 tanduk, yang menandakan banyaknya acara ma’tinggoro tedong (memotong kerbau) yang diadakan oleh keluarga ini.

Lembang Ma’dong memiliki kondisi alam yang berbukit-bukit dan tanah yang subur. Sawah-sawah yang menguning, berundak-undak, indah sejauh mata memandang. Maka tidak heran jika mata pencairan penduduk Ma’dong sebagian besar dari bidang pertanian. Beruntung saya datang di bulan Juli yang merupakan musim panen. Sehingga saya bisa melihat dari dekat masyarakat Ma’dong ma’pare (memanen padi). Ma’pare dilakukan secara berkelompok oleh warga yang berasal dari lingkungan rumah dan sekitarnya. Dari hasil ma’pare tersebut mereka diberi imbalan 20 % dari hasil yang didapat. Misalnya jika mampu memanen 100 ikat, maka mereka diberi 20 ikat per kelompok. Hasil tersebut digunakan untuk membiayai kegiatan kelompok atau untuk keperluan Lembang.

Panen

Membuat Tikar

Nenek Ratte merupakan orang tertua di Lembang ini.



Selain melakukan pekerjaan di sawah serta mengurus keluarga, kaum wanita di Ma’dong memanfaatkan waktu senggang mereka di sore dan malam hari dengan membuat anyaman tikar. Begitu mahirnya, bahkan dalam menganyam mereka bisa sambil bercakap-cakap atau menonton televisi. Biasanya untuk tikar berukuran besar, dapat diselesaikan selama waktu 7 hari dan dijual dengan harga sekitar Rp.40.000. Sedangkan ukuran sedang, dijual dengan harga Rp 35.000. Harga tikar yang bermotif dan berwarna memiliki harga lebih tinggi lagi.

Tuyuh

Tikar-tikar tersebut dibuat dari tuyuh, yang merupakan batang tumbuhan air yang ditanam di sawah. Setelah mencapai tinggi sekitar 1 meter maka tuyuh dipanen. Setelah dipotong, kemudian diberi serbuk kapur secara merata, batang tuyuh dikeringkan dengan cara dijemur. Pemberian serbuk kapur ini dimaksudkan untuk mempercepat proses pengeringan dan juga membuat tikar tahan lama. Lama pengeringan tergantung dari kondisi cuaca. Jika matahari sangat terik hanya dibutuhkan waktu dua jam tapi bila agak mendung bisa sehari. Sedangkan untuk proses pewarnaan tuyuh, mereka mencelupkan terlebih dahulu dengan zat pewarna yang dibuat dari ekstrak daun-daunan maupun kayu-kayuan.

Sore merambat menjelang malam dan saya kembali ke rumah tongkonan Helena Tulek, tempat saya menginap. Dan terlelap bersama sejuk dingin pegunungan Tana Toraja. Laksana air conditioner raksasa.

Rumah Tongkonan sendiri secara umum terbagi dalam tiga ruangan yaitu ruang paling depan disebut palluang, digunakan untuk menerima tamu. Bagian tengah disebut salli yang digunakan untuk bercengkerama dengan seluruh kelurga, dan bagian belakang, disebut sumbung, ruangan ini digunakan untuk dapur. Namun sekarang, jarang sekali terdapat dapur di tongkonan karena alasan keamanan dan juga karena bertambahnya wawasan masyarakat setempat akan arti penting kesehatan.

Anak-anak berangkat sekolah.

Anak-anak SDN 3 Rantetayo, di Lembang Ma'dong, Rantetayo, Tana Toraja.

Tongkonan di Lembang Ma'dong




Pagi hari, rasa dingin berangsur berkurang, berganti dengan sejuk angin semilir. Ditemani Helena Tulek, pensiunan guru sekolah, saya berjalan-jalan berkeliling Ma’dong. Bu Helena menunjukkan jalan yang dilalui ketika masih bekerja. Diperjalanan kami melihat anak-anak Sekolah Dasar dengan seragam putih merah berangkat. Sebagian dari mereka memakai sepatu, sebagaian memakai sandal japit, dan ada juga yang tidak beralas sama sekali. Keterbatasan bukan alasan bagi anak-anak Ma’dong itu untuk menuntut ilmu. Setelah menaiki bukit-bukit dan pematang sawah yang sebelumnya sempat berhenti di pondok kayu untuk mengatur nafas yang mulai tersengal-sengal, akhirnya kami sampai juga di sekolah.

Saat saya tiba, pelajaran di SD Negeri 3 Dende’, Kecamatan Rantetayo tengah berlangsung. Jam pelajaran dimulai pada pukul 07.30 sampai pukul 10.00 untuk siswa kelas 1 dan 2, sedangkan kelas yang lain pelajaran berakhir berakhir pada pukul 13.00. Bahasa pengantar menggunakan bahasa Indonesia dan Toraja. Bahasa daerah digunakan untuk mempermudah pemahaman siswa terutama siswa kelas 1 dan 2 yang belum terbiasa menggunakan bahasa Indonesia untuk berkomunikasi sehari-hari. Fasilitas sekolah yang ada sangat sederhana dikarenakan terbatasnya dana dari pemerintah. Bahkan salah satu sisi sekolah hanya ditutup oleh kasa besi, itu pun sudah banyak yang berlubang. Sehingga anak-anak di kelas dengan leluasa melihat keluar. Juga dengan kedatangan kami.

Untuk memajukan sekolah, masyarakat secara swadaya mengumpulkan dana, bahkan ketika musim panen padi tiba siswa-siswa sekolah memotong padi ke sawah milik warga dan hasilnya digunakan untuk membiayai kegiatan sekolah.

Ma’dong, sebuah potret tentang keindahan, keramahan, dan juga kesederhanaan Tana Toraja. Walaupun manusia kadang sulit untuk merasa puas tapi saya harus meninggalkan kedamaian tempat ini. Dan terbersit dalam benak ini, “Satu saat, saya akan kembali.”

Helena Tulak.



Narasi: Ahmad Zamroni dan Dian Suryani
Foto: Ahmad Zamroni

[wpfp-link]

[ad]

4 Comments
  • roni

    Hi, Hasbi, apa kabar? Wah menarik juga itu. Aku sekarang sudah di Jakarta, yag semoga da kesempatan lagi untuk kembali ke Sulsel lagi. Kontak-kontak ya kalao ada informasi menarik. Thank you.

    February 8, 2010 at 8:22 am
  • Hasbi

    Wah bos…masih di Tator atau di Makassar?? kebetulan saya posisi di Mks sekarang…boleh donk ikutan hunting foto sekalian minta ilmu hi3x…sebenarnya untuk wil Sule-sel ada juga daerah perawan, tapi nggak tau bisa diakses orang asing apa nggak yaitu Kajang di Kab. Bulukumba yang terkenal dengan Ammatoa (kepada adat Kajang). Daerah Kajang ini juga terkenal dengan pakaian sehari2 penduduknya hitam-hitam, ritual-ritual keagamaa dan kepercayaan daerah setempat dan masih banyak keunikan lain.

    February 8, 2010 at 7:21 am
  • roni

    Thanks mbak Nida, seang juga da orang yang bisa ikut menikmatinya. Salam buat semua.

    February 8, 2010 at 2:54 am
  • nida husna

    Foto2 yg sangat bermakna
    Setiap gambar memiliki cerita dan latar belakang pengambilan
    Membuat yang melihat bisa merasakan dan meresapi pesan yg disampaikan
    Indonesia memang memiliki keragaman hampir dalam segala hal
    Semoga saya berkesempatan untuk mengabadikannya dan memperlihatkan pada dunia
    Keindahan ataupun kekurangan adalah hal2 yang melengkapi kehidupan kita di dunia ini
    Dan jika nanti memang berkesampata kesana lagi, kabar2i yaaa…
    Mana tau ada rizki jadi bisa gabung…

    February 7, 2010 at 3:38 pm

Post a Comment

%d bloggers like this: