Top
Perjalanan di Taman Nasional Rawa Aopa – Ahmad Zamroni's Blog
fade
128
single,single-post,postid-128,single-format-standard,eltd-core-1.1,flow-ver-1.3.5,,eltd-smooth-page-transitions,ajax,eltd-blog-installed,page-template-blog-standard,eltd-header-standard,eltd-fixed-on-scroll,eltd-default-mobile-header,eltd-sticky-up-mobile-header,eltd-dropdown-slide-from-bottom,wpb-js-composer js-comp-ver-5.0,vc_responsive
Ahmad Zamroni's Blog / Travel  / Perjalanan di Taman Nasional Rawa Aopa
Roni_IMG_2200

Perjalanan di Taman Nasional Rawa Aopa

 

Rawa Aopa by Ahmad Zamroni

Sebagian besar orang menuju ke liang kubur dengan keinginan yang masih terpendam dalam diri mereka“, begitu kata Oliver Wendell Holmes.

Tentu saja saya berharap hal itu terjadi. Keingiinan dan rasa ingin tahu tersebut yang membawa saya ke Taman Nasional Rawa Aopa Watumohai. Sebenarnya sudah banyak cerita dan juga data-data tentang tempat itu sebelumnya, tapi rasanya tanpa melakukan sendiri perjalanan ini saya tidak aka mendapatkan pengalaman batin yang berharga.

Taman Nasional Rawa Aopa Watumohai (TN RAW) dengan luas 105.000 ha terletak diantara 121°44’- 122°44’BT dan 4°22’- 4°39’LS. Wilayah ini terletak di ujung Tenggara pulau Sulawesi dan secara administratif terletak di Propinsi Sulawesi Tenggara. Di dalam TN RAW ini terdapat ekosistem yang cukup bervariasi yaitu : ekosistem hutan hujan tropik, ekosistem savana, ekosistem rawa dan ekosistem mangrove. Begitu pun dengan keanegaragaman hayati TN RAW. Bahkan, berdasarkan hasil survei (Dirjen Perlindungan dan Konservasi alam dan Wetlands International Indonesia Programme, 1997) telah ditentukan bahwa TN RAW memiliki kepentingan kepentingan nasional maupun internasional untuk konservasi, karena memiliki keterwakilan suatu wilayah biogeografi yang menyokong sejumlah besar kehidupan jenis fauna yang hidup di dalamnya, termasuk beberapa jenis yang telah langka atau telah terancam kepunahan, seperti Wilwo (Mycteria cinerea), Buaya Muara (Crocodylus porosus), Maleo (Macrocephalon maleo), Kakatua (Cacatua sulphure) dan Burung Tikusan Sulawesi (Gymnocrex rosenbergii). Selain itu, lokasi ini juga merupakan penyokong kehidupan sejumlah sepertiga dari keseluruhan jumlah jenis burung endemik Sulawesi serta enam jenis mamalia endemik Sulawesi.

Dari kota Kendari, ibukota Sulawesi Tenggara perjalanan kami dimulai. Saya menyebut ‘kami’ di sini, karena saya tidak melakukan perjalan sendiri tetapi saya ditemani oleh Totok, teman satu universitas saya. Pertama kami harus menuju kota kecil Tinanggea. Dari kota Kendari, Tinanggea berjarak kurang lebih sepanjang 105 km. Jalan menuju Tinanggea cukup bagus, sehingga dengan angkutan umum tempat ini sudah dapat tercapai dalam waktu 3 jam. Di tempat ini kami sudah ditunggu oleh Bapak Madamang, orang asli daerah ini yang akan mengantar kami. Beliau adalah ketua dari masyarakat muara lanowulu yang nanti akan saya singgahi.

Selanjutnya perjalanan dilanjutkan dengan menggunakan perahu. Sudah barang tentu perahu yang digunakan bukanlah perahu besar tapi perahu yang oleh masyarakat lokal disebut ‘katingting’ yang berkapasitas 5-7 orang dan menggunakan mesin berkekuatan kecil. Saya, Totok, Pak Madamang dan seorang pengemudi dalam perahu kami. Gelombang Selat Tiworo tidak terlalu besar tapi karena badan perahu kecil goyangan pun cukup terasa, bahkan kalau kita bergerak , badan perahu pun ikut bergoyang. Bagaimanapun ini merupakan pengalaman pertama buat saya dan teman saya mengarungi selat dengan perahu kecil. Rasa tegang dan kawatir tidak dapat kami sembunyikan. Bagaimana tidak, perahu rasanya akan terbalik saja. Bergoyang ke kiri dan kekanan, baik karena gelombang maupun gerakan kita dalam perahu. Melihat kekawatiran kami pengantar kami tersenyum. “Santai aja, ini aman, saya sudah melakukannya ratusan kali”, begitu pak Madamang mencoba menghibur kami dan rasanya cukup berhasil dan senyum yang terasa mahal tadi perlahan mulai ‘mencair’ di bibir kami. Selama perjalan kami diberikan sajian pertunjukan alam yang sungguh menarik. Panorama laut dan gelombang Selat Tiworo dan juga hijaunya hamparan hutan mangrove yang lebat dan mempunyai luas kurang lebih 3000 ha. Hutan mangrove di sini bisa dikatakan masih alami. Tinggi batang pohonnya bisa sampai 20an meter. Menakjubkan, selain pohon yang menjulang tinggi, juga bisa kita jumpai pohon mangrove yang berdiameter cukup besar, kurang lebih 1,5 meter. Setelah satu jam lebih perjalan menyusuri Sungai Roraya dan Sungai Lanowulu sampailah kami ke perkampungan muara.

Seperti pada umumnya perkampungan nelayan, rumah-rumah mereka menyerupai rumah panggung yang dibangun di atas air dengan menggunakan batang bakau, pohon yang tahan tergenang oleh air laut yang asin. Batang pohon dengan diameter besar digunakan sebagai tonggak-tonggak utama dipancangkan ke dasar sungai. Sedangkan yang berdiameter kecil digunkan sebagai alas (lantai). Batang besar yang sudah digergaji menjadi papan-papan lebar dipakai sebagai dinding rumah. Rumah antar satu keluarga dengan keluarga lain berdiri saling berdekatan dan saling berhubungan. Tidak ada ranjang sebagai alas tidur karena lantai dan kasur sudah menjadi alas tidur yang cukup nyaman. Tidak ada listrik dan lampu yang menyala darinya, karena siang ada sinar matahari dan malam ada bulan atau lampu minyak yang mereka anggap cukup. Tidak ada jendela karena angin sudah cukup kuat menembus dinding-dinding mereka yang bercelah-celah diantara papan-papan. Pondok-pondok kecil yang natural, yang berdirir di atas air, diantara kemegahan alam.

Muara Lanowulu

Muara ini dihuni mulai dari anak-anak, orang dewasa, orang tua sampai nenek-nenek. Bahkan ada beberapa anak lahir ditempat ini. Rata-rata anak-anak tersebut tidak bersekolah dengan alasan tidak mempunyai biaya, sehingga harus membantu orang tuannya. Sebahagian besar penghuni muara ini tidak sempat tamat sekolah.

Hidup selaras dengan alam, itulah mereka. Mereka hidup dari mencari Ikan,udang dan kepiting. Selain itu mereka membuat terasi dengan bahan baku ebi (udang kecil). Untuk menangkap ikan dan udang mereka menggunakan pancing, jaring dan memasang togo yaitu jaring yang dipasang pada tonggak-tonggak kayu di sepanjang sungai dan letaknya berselanag-seling. Pemasangantogo ini disesuaikan dengan pasang surut air laut.

Disamping itu mereka juga menangkap kepiting bakau dengan alat yang dinamakan bubu. Bubu kepiting ini merupakan suatu perangkap yang berbentuk persegi panjang terbuat dari batang kayu/bambu sebagai rangka, yang diujungnya diikat dengan jaring yang berbentuk sarang laba-laba dari tali nilon dan di atasnya diberikan umpan berupa ikan yang dikeringkan.

Dalam satu tahun hasil tangkapan tidak selalu sama, jumlah tangkapan besar terjadi pada saat hujan masih turun sekitar bulan Februari sampai Juni dan berkurang pada saat hujan tidak turun lagi sekitar bulan Juli sampai Oktober. Dalam penangkapan dikenal istilah turo yaitu waktu penangkapan yang lamanya 7-10 hari dan dalam sebulan terdapat dua turo yang tidak berurut yakni minggu 1 dan 3 atau 2 dan 4. Setiap lepas turo digunakan penduduk untuk membuat terasi.

Sadar akan ketergantungan mereka terhadap alam, masyarkat muara sangat meperhatikan kelestarian hutan mangrove yang ada. Karena bila hutan mangrove rusak otomatis kelestarian ikan, udang dan kepiting juga akan terganggu karna hutan mangrove merupakan tempat hidup bagi kepiting dan tempat bertelur bagi ikan-ikan.

Saya untuk beberapa hari bermalam di sini. Bergaul dengan mereka, menyusuri sungai-sungai melihat dari dekat vegetasi mangrove, memancing dan menikmati kedamaian tempat ini menjadi kegiatan yang cukup mengasyikkan. Bagi anda yang suka mengkonsumsi makanan laut disini anda akan terpuaskan. Ikan laut yang beraneka macam, kepiting dan udang akan tersaji dalam hari-hari makan anda. Dan hari akan diakhiri dengan tidur di malam yang bertabur bintang bersama desiran angin laut yang segar serta gemericik air yang merupakan melodi indah kehidupan.

Jika berbicara tentang keinginan, sebenarnya saya dan Totok ingin tinggal lebih lama lagi. Rasanya masih banyak yang terlewatkan. Akan tetapi karena kerbatasan waktu kami harus melanjutkan perjalanan ke lokasi berikutnya, Rawa Aopa. Hari itu rasa haru terasa menyelimuti kami dan juga penduduk perkampungan, seiring dengan kepergian yang kami rencanakan. Memang tidak ada tangis hanaya senyum keramahan setelah kita bergaul beberapa hari. Saya berharap suatu hari nanti saya akan mempunyai kesempatan untuk sampai ketempat indah ini.

Deru motor perahu sudah dinyalakan. Mereka melambai dan begitupun kami membalas. Perahu bergerak seakan tidak bisa ditahan lagi. Mereka dan kampung diatas air itu semakin menjauh dan menjauh. Beberapa menit kemudian menghilang dimakan oleh jarak dan kelokan Sungai Lanowulu. Dari muara ini kami menyusuri Sungai Lanowulu ke arah hulu. Pemandangan yang sudah tidak asing lagi, air, gelombang sungai karena terbelah oleh badan perahu dan hutan mangrove menemani kami sepanjang perjalanan ke kantor Taman Nasional. 45 menit kemudian kami sampai di dermaga. Ditempat ini kami sudah dijemput oleh petugas taman Nasional yang ramah menuju kantor Taman Nasional. Tempat ini terletak di ekosistem savana.

Vegetasi savanah ini merupakan merupakan tipe ekosistem yang khas terbentang luas lebih dari 30.000 ha. Vegetasi ini merupakan asosiasi antara padang rumput dengan tumbukan berkayu. Jenis rumput-rumputan tersebut seperti alang-alang(Imperata cylindrica), Tio-tio (Fimbristilis ferrugenea), Kurangga (Axonopus compressus) dan teki-tekian (Cyperus rotundus). Tumbuhan kayu yang ada antara lain Agel (Corypha utan), Lontar (Borassus flabelifer), dan Bambu duri(Bambusa spinosa). Komposisi ini menjadi tempat ideal bagi rusa (Cervus timorensis) dan anoa dataran rendah (Anoa depresicornsis). Disebelah utara dari savanah ini bisa dilihat Gunung Watumohai yang menampilkan hutan hujan tropis yang masih lebat. Keberuntungan kami hanya melihat beberapa kawanan rusa (Cervus timorensis) saja. Sayang juga, kami tidak bisa melihat lebih banyak di tempat ini. Perjalanan kami berikutnya sudah menunggu.

Rawa aopa dari kantor Taman Nasional di Lanowulu ini berjarak kurang lebih 86 km. Beruntung kami karena Taman Nasional menyediakan kendaraan lapangannya sehingga kami tidak perlu menyewa angkutan.Perjalanan di sini di tempuh selama 2 jam, melewati permukiman-permukiman transmigasi dan juga perbukitan.

Rawa ini merupakan cekungan tempat bermuara beberapa sungai. Sungai besar yang bermuara di sini antara lain Sungai Konaweha dan Sungai Lahumbuti. Air rawa ini kemudian menyusub ke bawah permukaan bumi. Lalu muncul di lembah pohara dan dinamakan Sungai Pohara. Sungai ini merupakan pemasok air bagi penduduk kota kendari yang berjumlah kurang lebig 180.000 jiwa. Luas rawa secara keseluruhan lebih dari 70.000 ha, akan tetapi tidak semua masuk dalam kawasan Taman Nasioanal. Hanya 10.000 ha di bagian hulu saja yang masuk dalam kawasan Taman Nasional.

Penduduk di sekitar rawa selain bertani, mata pencaharian mereka mencari ikan. Ikan di rawa ini cukup melimpah. Satu dari pencari ikan tersebutlah yang mengantar kami mengelilingi rawa.

Di pagi yang cerah itu saya dengan perahu rawa mengarungi rawa dengan seorang nelayan yang cukup hafal daerah ini. Hal ini kami lakukan karena kondisi rawa sedikit membingungkan. Kondisi vegetasi yang tumbuh cukup lebat dan dibeberapa tempat menutup jalur-jalur yang ada di peta. Bila tidak terbiasa bisa saja tersesat.

Taman burung alami, seperti itu yang menjadi pikian saya. Begitu banyak jenis burung di sini. Setiap pagi dan sore mereka berkeliaran di rawa ini untuk mencari makan. Melompat diantara vegetasi terapung dan diantara bunga-bunga teratai(Nelumbu nucifera, Nymphodes indica, Nymphaea nauchali) yang banyak tersebar di tempat ini, menutup sebagian tubuh air. Dari hasil penelitian yang ada setidaknya terdapat 100 jenis spesies burung yang ada di sini.Kelompok aves yang sudah dikenal masyarakat setempat antara lain maleo (Machrocephalon maleo), Kakatua putih (Cacatua sulphurea), belibis, bangau, merpati dan nuri. Selain jenis burung di rawa ini juga terdapat satwa yang ‘menyeramkan’ antara lain anoa, babirusa, buaya dan ular. Saya sendiri masih bingung antara senang atau tidak karena saya tidak menemui jenis satwa yang terakhir tadi selama beberapa hari pengarungan kami.

Selain menikmati pemandangan alami dari rawa aopa ini, kami juga dapat menyakskan kehidupan nelayan rawa. Jumlah mereka cukup banyak. Mereka terbagi dalam kelompok-kelompok tertentu yang biasanya berdasarkan oleh kedekatan hubungan keluarga. Memancing dan memasang jaring akan banyak kita lihat di tempat ini. Aktivitas nelayan itu dilaksankan tidak hanya di siang hari tapi juga malam hari. Jadi tidak jarang mereka harus menginap di tengah rawa. Diatas perahu yang hanya cukup ditumpangi oleh satu orang saja. Pada hari jum’at mereka tidak turun ke rawa, karena sesuai dengan kepercayaan mereka yang didapat turun menurun hari jum’at merupakan hari buaya dan hal ini masih dipercaya sampai sekarang.

Tidak terasa sudah 2 minggu perjalanan kami. Suka atau tidak saya harus meninggalkan tempat yang menakjubkan ini. Berat memang meninggalkan keindahan alam, keindahan satwa, dan keramahan masyarakat di Taman Nasional Rawa Aopa Watumohai. Kesegaran alam tanpa kebisingan dan hingar bingar kota serta alam yang masih alami pastilah akan saya rindukan. Terimakasih semuanya atas suguhan yang menggetarkan jiwa ini. Berada dekat dengan alam serta belajar dari alam merupakan keuntungan yang tiada tara dan saya berharap suatu saat nanti saya akan kembali. (az) 20-4-2005


[wpfp-link]

5 Comments
  • roni

    Thanks for bayu n Nde.

    February 4, 2010 at 1:44 am
  • roni

    Thanks Wied, Iya belom ketemu file-nya, jaman masih pake analog.

    February 4, 2010 at 1:36 am
  • bayu

    Pancen keren awakmu mas… Lanjutkan !!

    February 4, 2010 at 1:08 am
  • nde

    sip kang….jd pengen

    February 4, 2010 at 12:55 am
  • widi guruh

    Wah asyik sekali perjalanannya dab..kurangnya cm atu: fotonya dikit hehehe..

    January 31, 2010 at 1:26 pm

Post a Comment

%d bloggers like this: